Mencekam, Teror Harimau Hantui Warga Jorong Lambeh Agam

Harimau Sumatera
Harimau Sumatera (KLIKPOSITIF/Haswandi)

AGAM, KLIKPOSITIF -- Setelah seekor kambing mati mengenaskan yang diduga akibat diserang harimau di Jorong Palembayan Tangah Nagari Ampek Koto Kecamatan Palembayan Kabupaten Agam-Sumbar pada Rabu 15 Maret 2017 lalu, warga sekitar makin waspada. Malahan, kampung tetangganya di Jorong Lambeh menetapkan siaga satu bagi warganya.

Pasalnya, harimau usil pemangsa ternak itu, terdeteksi terakhir kali berada di sekitar hutan yang menghubungkan Jorong Lambeh dan Jorong Palembayan Tangah, tepatnya di Sawah Liek, dekat BKSDA Agam memasang kandang perangkap.

Kini, jorong dengan penduduk mencapai 700 jiwa itu dibayang-bayangi ketakutan, akibat teror harimau itu. Sebab, warga mengaku sempat melihat harimau yang diperkirakan berusia sekitar tiga tahun dengan panjang mencapai dua meter itu masih berkeliaran di sekitar lokasi pada Jum’at 17 Maret 2017, saat magrib.

Baca Juga

“Kami takut pergi ke ladang,’’ ucap Arni (60).

Jika terpaksa pergi ke ladang, kata Arni, warga tak berani pergi sendirian, harus berkawan. Itu pun saat masih siang. Ketika malam, warga pun enggan keluar rumah.

“Bisa saja mereka menyerang manusia, walaupun seingat saya itu belum pernah terjadi," tambah Arni.

Sedangkan untuk mengamankan ternak, warga secara bertahap mulai mengevakuasinya lebih dekat ke pemukiman, tak lagi mereka mau menempatkan ternak seperti sapi, kerbau dan kambing di pinggir hutan.

Bahkan, mereka mulai membangun kandang yang dirasa lebih aman ketimbang harus berkeliaran.

“Saya buatkan kandang di depan rumah. Sebelumnya, sapi itu ditempatkan sekitar 100 meter dari rumah tanpa kandang,’’ ucap Ardi Kamra (47) yang juga warga Lambeh, seraya memasang dinding kandang untuk seekor sapi dewasa miliknya.

Sementara, salah seorang tokoh masyarakat setempat, Yasril, mengungkapkan kekesalan terhadap serangan brutal harimau yang menurutnya sudah membunuh serta melukai sedikitnya 14 ternak sepanjang 2017 ini.

“Harimau itu sudah memangsa sapi, kerbau, dan kambing milik kami. Kemana kami bisa minta ganti rugi? Dia harus ditangkap dan pergi dari sini,’’ ungkapnya murka.

Tak hanya rugi materil, secara psikologis warga pun tertekan. "Sekarang, sejak pukul 18.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB, warga tak berani melintas di jalan yang menghubungkan Palembayan Tangah-Lambeh, terutama di dekat perangkap BKSDA. Kami yang sudah terpencil, makin jadi terkucil," sambung Yasril.

“Bagaimana kami mau pergi menyadap karet, memanen cabe atau ke sawah jika dia masih berkeliaran di sini,’’ curhatnya kepada KLIKPOSITIF, Minggu 19 Maret 2017.

[Hatta Rizal]

Penulis: Iwan R | Editor: -