Pewarna Alami Batik Dukung Sektor Usaha Ramah Lingkungan

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

JAKARTA, KLIKPOSITIF -- Seiring semakin meningkatnya penggunaan zat warna alam pada kain wastra, industri batik telah berkembang menjadi sektor usaha yang ramah lingkungan, dan menjadikan batik sebagai produkyang bernilai ekonomi tinggi, bahkan pengembangan zat warna alam turut mengurangi importasi zat warna sintetik.

"Kami terus mendorong para perajin dan peneliti agar terus berinovasi mendapatkan berbagai varian warna alam untuk bisa mengeksplorasi potensinya, sehingga memperkaya ragam batik warna alam Indonesia," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada pembukaan Gelar Batik Nusantara 2017 yang diselenggarakan oleh Yayasan Batik Indonesiadi Jakarta, seperti rilis di laman Kemenperin.

Menurut Menperin, di tengah persaingan global yang semakin kompetitif dan dinamis, preferensi konsumen terhadap produk ramah lingkungan terus meningkat. "Kehadiran batik warna alam mampu menjawab tantangan tersebut dan diyakini dapat meningkatkan peluang pasar saat ini," jelasnya.

Baca Juga

Melihat perdagangan produk pakaian jadi di dunia yang mencapai USD 442 miliar, menjadi peluang besar bagi industri batik nasional untuk meningkatkan pangsa pasarnya, mengingat batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi. “Industri batik nasional memiliki daya saing komparatif dan kompetitif di atas rata-rata dunia. Indonesia menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia,” tegas Airlangga.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, pelaku usaha batik di Indonesia didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) yang tersebar di 101 sentra. Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik mencapai 15 ribu orang. Nilai ekspor kain batik dan produk batik pada tahun 2016 mencapai USD149,9 juta dengan pasar utama Jepang, Amerika Serikat, dan Eropa.

"Data tersebut menunjukkan bahwa industri batik memiliki peran penting bagi penggerak perekonomian nasional melalui penumbuhan wirausaha, penyedia lapangan kerja, dan penyumbang devisa negara," jelas Airlangga.

Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih menyampaikan, pihaknya terus melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas dalampengembangan batik warna alam Indonesia.

"Misalnya, pengembangan batik warna alam yang memiliki ketahanan cuci dan gosok, sehingga warnanya lebih tahan lama. Untuk itu, diperlukan teknik pewarnaan alam yang lebih efisien," tuturnya.

Dalam mendukung pengembangan industri batik nasional, Gati mengemukakan, Ditjen IKM Kemenperin telah melakukan berbagai kegiatan strategis, antara lain program peningkatan kompetensi SDM, pengembangaan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan serta promosi dan pameran.

"Program ini diberikan kepada para perajin dan pelaku usaha batik untuk meningkatkan daya saing dan kapasitas produksinya," jelas Gati.

Selanjutnya, untuk meningkatkan akses pasar,Kemenperin juga memiliki program e-Smart IKM. "Kami juga mendorong agar industri batik memanfaatkan berbagai fasilitas pembiayaan seperti KUR, LPEI dan insentif lainnya untuk memperkuat struktur modalnya," sebut Gati. (*)

 

Video

Sumbar Kesulitan Solar

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Eko Fajri