RI Buka Peluang Investasi Industri AS

Ilustrasi
Ilustrasi (net)

JAKARTA, KLIKPOSITIF -- Indonesia membuka peluang kerja sama dan investasi di sektor industri bagi para pengusaha Amerika Serikat, dengan penguatan hubungan bilateral yang diharapkan mampu memperluas pasar ekspor bagi produk dalam negeri dan meningkatkan kemitraan antara pelaku usaha kedua negara.

“Ada banyak hal yang dipertanyakan oleh delegasi Amerika. Intinya mereka meminta kepastian regulasi hingga terbukanya akses bahan baku di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai bertemu dengan US-ASEAN Business Council di Kementerian Perindustrian, Jakarta.

baca juga: Arsul Sani: Polri Harus Hati-Hati dalam Upaya Paksa Penindakan Non Jatras

Delegasi AS yang dipimpin Senior Vice President and Regional Managing Director US-ASEAN Business Council Michael Michalak ini membawa sejumlah pelaku industri asal Negeri Paman Sam tersebut, di antaranya Adobe, Amazon, Bechel, BP, Cargill, Caterpillar, Chevron, Cisco, Coca-cola, Expedia, Exxon Mobile, GE, GSK, Harley Davidson, Mattel, Oracle, Qualcomm, Time Warner, UPS, Visa dan Zoetis.

Menperin menyebutkan, misalnya dari perusahaan makanan dan minuman Coca-Cola Company, yang menanyakan soal lelang gula rafinasi. “Menurut mereka, dengan adanya lelang, akan mengubah skema business to business yang selama ini berjalan,” ujarnya.

baca juga: Gede Widiade Ungkap Wacana Pembentukan Operator Baru Liga 2

Oleh karena itu, Kemenperin akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Perdagangan sehingga bahan baku untuk industri tidak terganggu.

Airlangga menyampaikan, pihak GE selaku perusahaan teknologi dan jasa mengharapkan agar implementasi dan pengawasan mengenai aturan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dapat dilaksanakan dengan baik oleh pemerintah Indonesia.

baca juga: Legislator Kritik Syarat Pengajuan Calon Kepala Daerah pada Draft RUU Pemilu

“GE punya pabrik boiler di Surabaya, namun selama ini utilisasinya sangat rendah. Belum ada pembelian sampai sekarang,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Delegasi AS memberikan apresiasi terhadap skema TKDN yangdikeluarkan oleh Kemenperin dengan menerapkan tiga jalur, yakni hardware, software dan inovasi.

baca juga: Kerusuhan di AS Meluas, Komisi I Minta Pemerintah Pastikan Keselamatan WNI

Regulasi tersebut tertuang dalam Permenperin No. 65 tahun 2016 tentang Ketentuan dan Tata CaraPenghitungan Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Produk Telepon Seluler (Ponsel), KomputerGenggam (handheld) dan Komputer Tablet.

“Dari pihak industri pakan ternak, mereka mengharapkan kemudahan untuk bahan baku impor dan peningkatan bahan baku lokal, seperti jagung dan singkong karena sangat berpengaruh dalam proses produksinya,” papar Airlangga.

Selanjutnya, produsen farmasi AS mempertanyakan mengenai pelaksanaan Undang-Undang Jaminan Produk Halal. Sebab, menurut mereka, produknya yang mengandung bahan kimia diperlukan sertifikasi. “Mereka khawatir akan menimbulkan gangguan dalam suplai bahan baku atau rencana pengembangan R&D mereka di Indonesia,” ujar Airlangga.

Kemenperin mencatat, Amerika Serikat merupakan mitra dagang utama ketiga Indonesia setelah China dan Jepang dengan total nilai perdagangan pada tahun 2016 mencapai USD23 miliar. Sementara itu, pada tahun 2016, nilai investasi AS di Indonesia sebesar USD61 juta yang tersebar di berbagai sektor, antara lain industri mineral non-logam, makanan dan minuman, permesinan dan elektronika, kimia, serta farmasi. (*)

Penulis: Eko Fajri