Beras Solok Dapat Pengecualian dalam Penetapan HET Pangan, Ini Alasannya

"Pemprov Sumbar sangat mendukung kebijakan Pusat. Nasrul menyebut, jika pemberlakuan HET beras ini akan terlaksana dengan baik. Namun, tidak untuk beras Solok"
Ilustrasi Seorang warga tengah menggarap sawah yang ada di Kabupaten Limapuluh Kota (KLIKPOSITIF/Eko Fajri)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Pemberlakukan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras secara Nasional sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) RI Nomor 57/M-DAG/PER/8/2017 yang telah disosialisasikan Perum Bulog masih menjadi perdebatan di wilayah Sumbar. Pasalnya, standar harga yang diberikan pemerintah untuk beras medium dan premium tidak cocok dilakukan untuk beras Solok yang sudah lama dikenal memiliki harga mahal di atas rata-rata beras Bulog.

“Kalau beras Solok tidak bisa disamakan harganya. Kita harus pahami, jika produk lokal yang sudah terbukti populer, berkualitas bahkan sudah mendunia tidak bisa diberlakukan HET untuk beras standar Bulog,” Sebut Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit Nasrul Abit, Minggu 16 September 2017.

Kendati demikian, lanjut Nasrul Abit, Pemprov Sumbar sangat mendukung kebijakan Pusat. Nasrul menyebut, jika pemberlakuan HET beras ini akan terlaksana dengan baik. Namun, tidak untuk beras Solok. Sebab, masyarakat yang mengkonsumsi beras Solok juga tidak merata. Dengan kata lain, mayoritas yang membeli beras Solok adalah orang-orang dengan ekonomi menengah ke atas, rumah makan dan restaurant besar. Sehingga, harganya mahal tidak bisa dikendalikan, karena memang sudah dicari dan tidak dikomplein oleh konsumen.

“Masyarakat yang mau beli HET silakan beli yang standar. Tapi, kalau mau makan dengan beras solok, jangan harap harga standar,” kata Nasrul Abit

Mantan bupati Pessel itu juga menyoal fluktuasi harga pangan dan sembako yang tidak berimbang, selalu terjadi sejak tahun 2006 lalu. Kondisi ini selalu terjadi jelang perayaan Idul Fitri, Idul Adha, hingga Natal dan tahun baru. Terutama, kenaikan harga bawang merah, cabai, beras, gula pasir, minyak, daging, hingga jengkol yang menjadi pemicu inflasi di Sumbar. Namun, lebaran tahun 2017 ini, kondisi harga di Sumbar, merata stabil.

“Kenaikan tentu ada, tapi tidak sampai membuat konsumen terpekik. Nah, bagaimana ... Baca halaman selanjutnya