Usaha Pembuatan Tangkelek di Agam Nyaris Punah, Ini Kendalanya

"Masuknya sandal jepit dan ditambah sulitnya bahan baku kayu yang berkualitas, membuat Tangkelek kian tergerus"
Usaha tangkelek di Agam yang masih eksis. (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

AGAM, KLIKPOSITIF -- Dewasa ini mungkin publik lebih mengenal 'Tangkelek' sebagai sebuah merek distro ternama di Sumatera Barat. Tapi tahukah Anda, jika tangkelek merupakan sandal khas Minangkabau dan sempat populer pada dekade 70 sampai 80-an.

Di wilayah Luhak Agam (Bukittinggi-Agam) daerah penghasil sandal "berisik" ini adalah Jorong Parik Putuih, Nagari Ampang Gadang, Kecamatan Ampek Angkek. Di sini, pada masa jayanya, Tangkelek diproduksi secara massal oleh banyak perajin.

Masuknya sandal jepit dan ditambah sulitnya bahan baku kayu yang berkualitas, membuat Tangkelek kian tergerus. Kondisi ini diperparah dengan sulitnya pemasaran membuat usaha pembuatan Tangkelek perlahan ditinggalkan dan nyaris punah.

Saat ini, mungkin di Parik Putuih, hanya Dedian (44) saja yang masih bertahan memproduksi sandal unik tersebut. Dedian yang karib disapa Bujang sudah menggeluti profesi ini lebih dari 20 tahun. Ia meneruskan usaha dari leluhur, tiga generasi di atasnya.

"Menjualnya sangat sulit, kalah bersaing dengan Terompah Japang (sandal jepit)," ucapnya lirih, Selasa 17 Oktober 2017.

Proses pembuatan Tangkelek, sebut Bujang, tak mengalami perubahan sejak dahulunya, mulai dari membelah kayu, lalu memotongnya dengan bentuk persegi panjang ukuran panjang 25 cm, lebar 10 cm dan ketebalan 3 cm.

"Prosesnya sama dari dahulu, tak berubah. Setelah di potong, lalu diketam halus, bentuk tumitnya dan dikasih karet ban. Selesai sudah,"lanjutnya.

Satu pasang Tangkelek, sebut Bujang, hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit. "Bagusnya, bahannya dari kayu rumin, surian, musang-musang dan pulai," ungkapnya di rumah sekaligus tempat memproduksi Tangkelek di Ranah, Parik Putuih.

Dalam sehari, Bujang bisa memproduksi sebanyak 40 pasang Tangkelek berbagai ukuran yang di tingkat pengecer harga per pasangnya mencapai 15 ribu rupiah. "Kita hanya mampu memasarkan di Bukittinggi saja, untuk keluar jarang ... Baca halaman selanjutnya