Cuaca Panas, Petani di Padang Ini Malah Senang

seorang petani di persawahan belakang Pasar Bandar Buat tampak menghalau buruh.
seorang petani di persawahan belakang Pasar Bandar Buat tampak menghalau buruh. (Cecep Jambak/Klikpositif)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Cuaca panas yang melanda Kota Padang dua pekan belakangan tidak mempengaruhi aktivitas petani khusus di persawahan.

Hal itu dilihat dari hasil pantauan KLIKPOSITIF di beberapa tempat. Seperti di persawahan di Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, dan di Bandar Buat, Kecamatan Lubuk Kilangan.

baca juga: 39 Persen Pasien Positif COVID-19 di Kota Padang Telah Dinyatakan Sembuh

Di persawahan di Bandar Buat, persisnya di belakang pasar, aliran air dari irigasi tersier tampak lancar. Padi di persawahan ada yang sudah berbuah dan ada yang belum. Rata rata berumur dua bulan.

Petani, Syafaruddin (65) menyebut, cuaca panas justru sangat dibutuhkan padinya saat ini. Sebab, padinya sudah masuk pada masa dua pekan berbuah, sehingga membutuhkan pasokan cahaya dan tidak membutuhkan banyak air.

baca juga: Kabar Baik, Penambahan Positif Corona di Sumbar Nihil per 29 Mei

"Kalau baru berbuah dalam istilahnya padi tabik, baru membutuhkan banyak air. Kalau saat ini tidak banyak, yang penting ada. Lagian airnya cukup lancar," ujar bapak empat orang anak ini.

Dijelaskannya, padi sangat membutuhkan air pada saat baru masa tanam hingga pembersihan rumput atau menyiangi. "Tapi tidak terlalu banyak juga," tambahnya.

baca juga: HBT dan Masyarakat Tionghoa Peduli Serahkan Bantuan Insinerator untuk Kota Padang

Di Korong Gadang, persawahan warga ada yang bermacam macam fase. Ada yang baru bertanam dan ada juga yang sudah dipanen. Juga terlihat petani yang tengah menjemur padi di halaman rumah.

Kepala Dinas Pertanian Kota Padang , Syaiful Bahri mengatakan, dampak cuaca panas memang tidak mempengaruhi pertanian, khususnya persawahan.

baca juga: PSBB Diperpanjang, Hotel dan Tempat Wisata di Padang Masih Ditutup

"Memang di beberapa lokasi, debit air di irigasi tersier mengalami pengurangan. Seperti kemarin saya lihat di Lubuk Laweh, kurang sekitar 20 cm. Tapi tidak berpengaruh," ungkapnya kepada KLIKPOSITIF , Minggu 29 Oktober 2017.

Sebab, katanya sebagian besar persawahan di Padang sudah selesai masa tanam dan sudah tumbuh besar. Sehingga padi tidak membutuhkan air yang banyak.

"Persawahan tergantung masa tanam. Dari awal hingga umur 25 hingga 30 hari memang butuh air. Kalau setelah itu sudah aman. Tingga pengaturan saja. Digenangi atau dikurangi," ungkapnya.

Katanya, saat ini irigasi yang masih bermasalah ada di kawasan Koto Tuo. Untuk antisipasi air diambil dari wilayah Lubuk Minturun.

"Saat sudah tender untuk pengerjaannya. Kabarnya 45 M," sebutnya.

[Cecep Jambak]

Penulis: Rezka Delpiera