Mengenal 15 Sosok Pahlawan Nasional Asal Sumatera Barat (Bagian 4)

Tamansari Pahlawan Nasional Asal Minangkabau
Tamansari Pahlawan Nasional Asal Minangkabau (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Pemeritah Indonesia saat ini mencatat, terdapat 173 pejuang yang terdaftar sebagai pahlawan nasional. Dari keseluruhan, 15 orang diantaranya berasal dari Sumatera Barat.

Menurut Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit, selain dari 15 orang tersebut, masih banyak pejuang asal Sumbar yang belum terdata oleh pemerintah pusat-salah satunya H. Bagindo Dahlan Abdoellah asal Pariaman.

"Masih banyak lagi, dan kami terus mengusulkan ke pemerintah agar yang belum terdata itu masuk dalam daftar pahlawan nasional, karena orang Minang mempunyai andil yang cukup besar pada masa perjuangan Republik Indonesia," katanya.

Baca Juga

Wagub merinci 15 nama Pahlawan Nasional dari Minangkabau yakni Abdoel Halim, Ilyas Yakoub, Rasuna Said, Tuanku Imam Bonjol, Mohammad Natsir, Abdul Muis, Bagindo Aziz Chan, Adnan Kapau Gani, Hamka, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, H. Agus Salim, Sutan Syahrir, dan Hazairin.

Untuk lebih lengkap, mari simak sosok 15 orang pahlawan nasional asal Sumatera Barat berikut ini:

Sebelumnya:

Mengenal 15 Sosok Pahlawan Nasional Asal Sumatera Barat (Bagian 1)

Mengenal 15 Sosok Pahlawan Nasional Asal Sumatera Barat (Bagian 2)

Mengenal 15 Sosok Pahlawan Nasional Asal Sumatera Barat (Bagian 3)

- Bagindo Aziz Chan

Bagindo Aziz Chan atau juga dikenal dengan sebutan Bagindo Azizchan merupakan Walikota Padang kedua setelah kemerdekaan, yang dilantik pada tanggal 15 Agustus 1946 menggantikan Mr. Abubakar Jaar. Ia meninggal dalam usia 36 tahun setelah terlibat dalam sebuah pertempuran melawan Belanda.

Jasadnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Bahagia, Bukittinggi. Melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 082/TK/2005, tanggal 7 November 2005, Bagindo Aziz Chan menerima Bintang Maha Putera Adipradana dan Gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 9 November 2005.

Perjuangan Bagindo Aziz Chan memulai perjuangannya di tengah situasi pasca-kedatangan Sekutu di Padang pada 10 Oktober 1945.

Dalam perjuangannya ia menolak tunduk terhadap kekuatan militer Belanda yang berada di belakang tentara Sekutu.

Selama melawan ia terus melakukan perlawanan dengan menerbitkan surat kabar perjuangan yang bernama Republik Indonesia Jaya, bahkan turun langsung memimpin perlawanan terhadap Belanda sampai akhirnya meninggal pada tanggal 19 Juli 1947.

Menurut hasil visum (yang dilakukan di Rumah Sakit Tentara Dr. Reksodiwiryo, Ganting sekarang), ia meninggal karena terkena benda tumpul dan terdapat tiga bekas tembakan di wajahnya.

- Adnan Kapau Gani

Dr. Adnan Kapau Gani atau biasa disingkat A.K. Gani adalah seorang dokter dan politisi Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan Kabinet Amir Sjarifuddin II.

A.K Gani adalah pahlawan yang lahir di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 16 September 1905 dan meninggal di Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia, 23 Desember 1968 pada umur 63 tahun.

Sejak remaja Gani aktif dalam kegiatan politik dan organisasi sosial. Pada era 1920-an, ia giat di berbagai organisasi kedaerahan seperti Jong Sumatranen Bond dan Jong Java.

Pada tahun 1928 ia terlibat dalam Kongres Pemuda II di Jakarta. Pada tahun 1931 ia bergabung dengan Partindo, yang telah memisahkan diri dari Partai Nasional Indonesia tak lama setelah penangkapan Soekarno oleh pemerintah kolonial.

Setelah proklamasi dan selama masa revolusi fisik, Gani memperoleh kekuasaan politik dengan bertugas di kemiliteran. Pada tahun 1945, ia menjadi komisaris PNI dan Residen Sumatera Selatan.

Selain itu, ia juga mengkoordinasikan usaha militer di provinsi itu. Gani menilai Palembang sebuah lokomotif ekonomi yang layak untuk bangsa yang baru merdeka.

Dengan alasan, bahwa dengan minyak Indonesia bisa mengumpulkan dukungan internasional. Ia merundingkan penjualan aset-aset pihak asing, termasuk perusahaan milik Belanda Shell.

Kemudian Gani juga terlibat dalam penyelundupan senjata dan perlengkapan militer. Beberapa koneksinya di Singapura, banyak membantu dalam tugas ini.

Sejak 2 Oktober 1946 hingga 27 Juni 1947, Gani diketahui menjabat sebagai Menteri Kemakmuran pada Kabinet Sjahrir III. Ketika menjabat sebagai Menteri Kemakmuran, ia bersama dengan Sutan Sjahrir dan Mohammad Roem menjabat sebagai delegasi Indonesia ke sidang pleno ketiga Perjanjian Linggarjati.

Setelah jatuhnya Kabinet Sjahrir, ia bersama Amir Sjarifuddin dan Setyadjit Soegondo menerima mandat untuk membentuk formatur kabinet baru.

Dalam kabinet tersebut, ia menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Kemakmuran. Gani adalah anggota kabinet pertama yang ditangkap pada masa Agresi Militer Belanda I, namun kemudian ia dibebaskan.

Dalam Kabinet Amir Sjarifuddin II, ia juga duduk pada posisi yang sama hingga kejatuhan kabinet ini pada tanggal 29 Januari 1948.

Setelah revolusi berakhir pada tahun 1949, Gani menjadi Gubernur Militer Sumatera Selatan. Pada tahun 1954, ia diangkat menjadi rektor Universitas Sriwijaya di Palembang. Ia tetap aktif dan tinggal di Sumatera Selatan hingga wafat pada tanggal 23 Desember 1968.

Untuk mengenang jasa-jasanya, pada tanggal 9 November 2007 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada A.K. Gani.

Gelar ini diterimanya bersama dengan Slamet Rijadi, Ida Anak Agung Gde Agung, dan Moestopo berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 66/2007 TK.

(Bersambung)

Editor: Ocky Anugrah Mahesa