Pernak-Pernik Kerajinan Khas Mentawai Banyak Diminati Pengunjung Sumbar Expo 2017 di Batam

"Setiap kali pameran memang souvenir-souvenir khas Mentawai ini sangat dicari pengunjung, terutama pernak pernik yang sederhana seperti gelang letcu ini sangat laku"
Ketua Dekranasda Mentawai, Ny. Imer Ajaria Kortanius (baju biru), dan Kepala Dinas Perindagkop Mentawai, Elisa Siriparang (baju biru) berfoto bersama pengunjung stand Mentawai pada Sumbar Ekpo 2017 di Kota Batam (istimewa)

BATAM, KLIKPOSITIF - Beragam kerajinan khas Kepulauan Mentawai yang ditampilkan dalam stand pada kegiatan Sumatera Barat (Sumbar) Expo 2017 banyak diminati pengunjung. Kerajinan khas yang ditampilkan itu seperti Palitte, atau ukiran berbentuk pedang khas Mentawai, Pendayung, yaitu ukiran pajangan dinding berbentuk alat dayung, berbagai pajangan dinding bermotif Balukbuk (tempat obat-obatan tradisional), Korabi (bentuk tato orang Mentawai), dan motif perahu dayung khas Mentawai, miniatur rumah adat Mentawai (Uma), miniatur papan surfing, panah, tombak, gelang Letcu, sampai tas Baklu yg terbuat dari pelepah sagu, dan masih banyak lagi aneka kerajinan khas Mentawai lainnya.

Viator Simanri (31), seorang pengrajin souvenir khas Mentawai asal Pokai Siberut Utara yang diikutkan pada kegiatan expo itu mengatakan, souvenir alat-alat tradisional Mentawai seperti tas Baklu, panah Mentawai, tombak yang dijual Rp100 ribu sampai Rp500 ribu per unit itu selalu menjadi incaran pengunjung pada setiap Mentawai mengikuti pameran.

"Setiap kali pameran memang souvenir-souvenir khas Mentawai ini sangat dicari pengunjung, terutama pernak pernik yang sederhana seperti gelang letcu ini sangat laku,” ujarnya

Viator yang sering dipanggil Bajak Letcu ini menyebutkan, souvenir Mentawai memang sangat diminati, bahkan pihaknya sering mengalami kewalahan dalam memenuhi permintaan pasar. Namun demikian, masih banyak kendala yang dia alami, terutama masalah modal dan perhatian dari pemerintah setempat, yang belum maksimal dalam melakukan pembinaan terhadap para pengrajin. "Pemasaran masih terbatas dengan adanya order, ada juga yang lewat online melalui instagram, tapi kita sudah kewalahan. Itu karena belum adanya tim, atau bantuan dari pemerintah, untuk mengelola yang lebih baik,” katanya

Oleh karena itu, ia mengharapkan, agar ada bantuan dari pemerintah setempat dalam pelatihan-pelatihan seni kerajinan tangan ini, seperti yang pernah ... Baca halaman selanjutnya