Melihat Buku Badrul Mustafa dari Sudut Akademis

"Kitab ini juga cocok bagi pembaca yang suka cerita yang alur dan kisahnya bolak balik, kacau dan sulit ditebak"
ilustrasi (ist)

PADANG,KLIKPOSITIF-Setelah diluncurkan beberapa waktu lalu buku puisi karya Heru Joni Putra , Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, Badrul Mustafa, telah dibahas dan dibincangkan disejumlah daerah di Indonesia. Di Padang buku in baru sekali dibahas oleh penyair Esha Tegar Putra beberapa waktu lalu dalam sebuah diskusi lepas di warung kopi.

Kini giliran para akademisi yang membongkar buku puisi ini. Drs. Zurmailis M.Hum, Drs Ferdinal M.A., Ph.D, dan Bella Dofinsa mencoba membaca sehimpun puisi Heru yang ditulis dalam satu dekade tersebut. Zurmailis adalah dosen Sastra Indonesia, Ferdianl dosen Sastra Inggris, dan Bella satu-satunya mahasiswa yang menjadi pembicara. Diskusi ini digelar di Fakultas Ilmu Budaya Jumat, 17 November 2017.

Ferdinal melihat puisi dalam buku ini dari kacamata berbeda. Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa, kata dia, seharusnya dipandang sebagai kitab yang tidak serius.  “Saya setuju dengan Esha Tegar Putra yang mengatakan bahwa dalam kitab Badrul Mustafa Badrul Mustafa Badrul Mustafa Heru mengikat secara longgar puisinya dengan tradisi lirisme Minangkabau,” ujarnya.

Menurut Ferdinal kitab puisi ini cocok untuk pembaca yang suka membaca kisah pasca-kolonial yang ditulis secara tidak biasa atau luar biasa. Kitab ini juga cocok bagi pembaca yang suka cerita yang alur dan kisahnya bolak balik, kacau dan sulit ditebak.

Dalam pemaparannya, Zurmailis menyebut Heru melakukan percobaan penciptaan puisinya dengan sangat serius. Dia melihat upaya Heru melakukan parodi dan pantun dan pepatah Minangkabau. Dia juga melihat terjadinya Irreduccibility pada kumpulan puisi ini. Artinya terjadi penurunan tingkat keterkaitan dengan wilayah asal. Wilayah asal adalah Minangkabau.

“Saya sependapat dengan Edwar Said yang melihat kebudayaan sebagai sumber jati diri yang pada masa ini justru harus diperjuangkan kembali,” begitu tutur Zurmailis dalam makalahnya.
Namun upaya ... Baca halaman selanjutnya