Fitnah Panglima TNI, Dokter Pariaman Ini Ditangkap Bareskrim Polri

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

KLIKPOSITIF -- Badan Reserse Kriminal Polri menangkap seorang wanita yang berprofesi sebagai dokter di Padang Pariaman karena menyebar kabar bohong soal keluarg Panglima TNI, Marsekal Hadi di media sosial.

Wanita tersebut diketahui pemilik akun Facebook Gusti Sikumbang dengan inisial SSD. Ia ditangkap oleh tim Tindak Pidana Siber Bareskrim, Jumat 15 Desember siang.

Berdasarkan informasi yang diterima KLIKPOSITIF, penangkapan tersebut dipimpin langsung oleh seorang perwira berpangkat Ajun Komisaris Besar bernama Irwansyah.

Baca Juga

Dalam informasi penangkapan dari kepolisian tersebut, SSD diketahui merupakan kader salah satu partai yang menang saat pemilu 2014 lalu di Kota Padang.

Tersangka SDD ditangkap karena memajang foto Panglima TNI Marsekal Hadi sekeluarga yang kemudian dilengkapi dengan kalimat yang berbau Sara dan provokatif.

"Kita pribumi rapatkan barisan, Panglima TNI yang baru Marsekal Hadi Tjahjanto bersama istrinya Lim Siok Lan dengan anak-anak cewek dan cowok. Anak dan mantu sama-sama di Angkatan Udara," tulis SSD di akun Facebooknya yang bernama Gusti Sikumbang tersebut.

Dikutip dari Detikcom, penangkapan dokter itu dibenarkan oleh Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal.

"Selain memfitnah Panglima TNI, di akun yang ia miliki, tersangka juga kerap postingan penghinaan terhadap Presiden Jokowi," katanya.

Kasubdit II Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Kombes Asep Safruddin menyebut, postingan berbau fitnah tersebut kemudian diteruskan oleh warganet sehingga viral di media sosial.

"Pelaku mengaku postingan seperti itu dibuatnya karena ketidakpuasannya terhadap pemerintahan yang sekarang," jelas Asep.

Asep menerangkan penyidik memiliki waktu 1x24 jam sejak penangkapan untuk memutuskan SSD ditahan atau tidak.

"Jadi sekarang sudah kita tangkap. Untuk menentukan ditahan apa tidak, kita masih punya waktu 24 jam untuk lakukan pemeriksaan," terangnya kemudian.

Dalam penangkapan tersebut, polisi menyita barang bukti dua unit telepon genggam, yang diduga digunakan oleh pelaku untuk membuat postingan fitnah tersebut.

Sementara terkait ancaman hukuman, tersangka SSD diduga telah melanggar pasal 45A ayat 2 Juncto Pasal 28 ayat 2 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara.

Kemudian pasal 16 Juncto pasal 4 huruf b angka 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras Dan Etnis, dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara.(*)

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa | Editor: -