Antisipasi Alat Tangkap Ilegal, Empat Kapal Perang akan Beroperasi di Laut Pessel

"Mulai Januari 2018 ini, ada empat kapal perang yang akan beroperasi ke laut Pesisir Selatan"
ilustrasi (KLIKPOSITIF)

PESSEL, KLIKPOSITIF -- Kesadaran nelayan di Kabupaten Pesisir Selatan diminta untuk menjaga kelestarian ekosistem laut dengan menggunakan alat tangkap ramah lingkungan di daerah itu. Sebab, dengan alat tangkap yang ramah lingkungan keberadaan biota bisa berkembang dengan baik.

"Dengan alat tangkap yang ramah lingkungan, kita bisa mengembangkan potensi laut yang sesuai dengan aturan pemerintah," sebut Kabid Pengawasan Perikanan dan Kelautan, DKP Padang, Albert saat memberikan sosialisasi di daerah itu bersama Pemkab Pessel belum lama ini.

Dia menjelaskan, dengan adanya aturan Undang-undang nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah yang mengatur perluasan kewenangan provinsi di sektor kelautan. Menurutnya, konsep ini dikembangkan mengingat kondisi geografi Indonesia berdasarkan potensinya.

"Keberadaan ikan di laut perairan daerah kita saat ini sudah mulai berkurang. Jadi, dengan kondisi itu klasifikasi alat tangkap, seperti jenis trawl (dilarang) dan keberadaan alat tangkap harus dimodifikasi sesuai aturan," jelasnya.

Kadiskum Lantamal II Padang, Letkol Edison R juga mengatakan hal yang sama, adanya kebutuhan praktek penangkapan ikan harus diutamakan sesuai aturan. Salah satunya, mencegah jenis pukat hamparan dasar, centrang dan jenis terlarang lain untuk menangkap ikan.

"Klasifikasi menggunakan alat tangkap, sudah dijelaskan dam Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 juncto Undang-undang Nomor 45 tahun 2009 tentang Perikanan. Jadi aturan itu, harus ditaatinya untuk kelestarian laut kita," terangnya.

Lanjutnya, sesuai ketentuan setiap orang dilarang memiliki dan mengunakan alat penangkapan yang terlarang tersebut. "Mulai Januari 2018 ini, ada empat kapal perang yang akan beroperasi ke laut Pesisir Selatan. Jika masih berlanjut, maka nantinya akan berurusan dengan pihak berwajib," pungkasnya.

[Kiki Julnasri Priatama]