Abbas: Upaya Perdamaian Hanya Bisa Dilanjutkan di Bawah Mediasi Internasional

Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa dia hanya akan menerima panel yang luas dan didukung secara internasional untuk menjadi perantara perundingan damai dengan Israel
Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa dia hanya akan menerima panel yang luas dan didukung secara internasional untuk menjadi perantara perundingan damai dengan Israel (Net)

KLIKPOSITIF - Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa dia hanya akan menerima panel yang luas dan didukung secara internasional untuk menjadi perantara perundingan damai dengan Israel , namun tidak menutup kemungkinan peran AS di panel semacam itu.

Orang-orang Palestina mendidih atas pengakuan Presiden AS, Donald Trump pada bulan lalu di Yerusalem atas ibukota Israel . Abbas mengatakan dalam sebuah pertemuan dengan pejabat senior Palestina bahwa tindakan tersebut telah mendiskualifikasi Amerika Serikat sebagai pembawa damai.

baca juga: Korban Jiwa Akibat Pandemi Corona di AS Lebih dari 100 Ribu Jiwa

Israel mengatakan akan menyambut Amerika Serikat sebagai mediator namun tawaran AS untuk menghidupkan kembali perundingan, yang dipimpin oleh penasihat dan menantu Trump, Jared Kushner, sejauh ini tidak menunjukkan kemajuan, sejak pembicaraan itu dibekukan pada 2014.

Trump mengatakan, untuk mencapai kesepakatan perdamaian merupakan suatu hal yang sangat baik dicapai pada abad ini.

baca juga: Donald Trump Larang Pelancong Brasil Masuk AS

"Kami tidak menerima Amerika Serikat sebagai mediator antara kami dan Israel . Biarlah komite internasional yang dibentuk dengan beranggotakan empat atau lima. Namun jika hanya Amerika Serikat ? Tidak," tegasnya.

Komentar Abbas dibuat pada awal pertemuan dua hari di Ramallah oleh Dewan Pusat Palestina , badan pembuat keputusan tertinggi Palestina , di mana 95 delegasi akan memperdebatkan strategi masa depan.

baca juga: Terkait COVID-19, Ini yang Dibahas Jokowi dan Donald Trump

"Kami tidak akan menerima apapun yang dapat diadili Amerika Serikat untuk memaksakan kepada kami dan kami tidak akan menerima mediasinya setelah terjadinya kejahatan tersebut," kata Abbas, yang mengacu pada keputusan Trump di Yerusalem.

Pejabat Palestina mengatakan bahwa mereka tidak akan bertemu dengan Wakil Presiden AS Mike Pence saat mengunjungi Mesir, Yordania dan Israel bulan ini.

baca juga: NBA Musim Ini Terancam Dihentikan Akibat Pandemi Corona

Sejak tahun 2002, sebuah 'Kuartet' perunding perdamaian Timur Tengah yang terdiri dari Amerika Serikat , Rusia, Uni Eropa dan Perserikatan Bangsa-Bangsa ditugaskan mempromosikan usaha perdamaian, namun gagal menunjukkan hasil apapun.

Pengakuan Trump terhadap Yerusalem karena ibukota Israel membalikkan dekade kebijakan AS dan telah membuat orang-orang Palestina marah dan memicu demonstrasi kekerasan di Yerusalem.

Israel menganggap Yerusalem sebagai ibukota abadi dan tak dapat dibagi. Orang-orang Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka.

Dilansir dari laman reuters, Israel merebut Yerusalem Timur dalam perang Timur Tengah 1967 dan mencaploknya dalam sebuah langkah yang tidak pernah diakui secara internasional.

"Jerusalem diambil secara epihak oleh Trump. Karena itu kita bertemu sekarang. Tidak ada yang lebih penting dari Yerusalem, "kata Abbas.

Penulis: Fitria Marlina