Rehabilitasi Bekas Tambang, Demi Masa Depan Dharmasraya

Foto kondisi bekas galian tambang yang ditinggalkan di Dharmasraya.
Foto kondisi bekas galian tambang yang ditinggalkan di Dharmasraya. (istimewa)

Pesona emas yang tertimbun di bawah 'Bumi Cati Nan Tigo' membuat negeri itu terkoyak oleh eksploitasi. Merkuri terpapar di sebagian besar wilayah galian bahan perhiasan tertua itu. Generasi hari ini harus memulihkan luka yang ditoreh ratusan tahun. Termasuk luka di tubuh seekor "naga".

Cecep Jambak - Dharmasraya

baca juga: Puluhan Warga Sungai Rumbai Kembalikan Dana BLT, Ini Sebabnya

'Cantik Itu Luka', begitu sebuah novel pernah dijuduli oleh Eka Kurniawan. Judul ini menjadi diktum bahwa setiap pesona menyimpan potensi masalah di dalamnya. Hal ini juga yang terjadi pada Kabupaten Dharmasraya , di Provinsi Sumatera Barat.

Batang Nunyo si 'Naga Emas', begitu nama sungai yang mengalir di sepanjang Nagari Tebingtinggi, Kecamatan Pulau Punjung itu. Nama ini didasarkan pada bentuk aliran yang memang menyerupai seekor naga yang tengah bergerak. Seperti halnya sungai-sungai lain yang berhilir ke Batang Hari, sungai ini juga mengandung potensi emas yang menggiurkan.

baca juga: Ketua DPRD Dharmasraya: Masyarakat Jangan Abaikan Protokol Kesehatan Selama Lebaran

Sejak zaman kerajaan, eksploitasi sudah di lakukan di sepanjang aliran dan bantarannya. Kini, kita telah mengerti, kenapa ada kata "emas" di belakang nama sang naga.

Sekarang, setelah beratus tahun dieksploitasi, nasib bantaran 'Naga Emas' porak-poranda. Lahan-lahan hutan dan perkebunan kehilangan humus dan hara sebab pertambangan dilakukan dengan sistem penggalian yang tidak memperhatikan keselamatan lingkungan, bahkan pada aktifitas pertambangan itu sendiri.

baca juga: Ketua DPRD Dharmasraya Salurkan Ratusan Paket Beras pada Masyarakat

Tak sedikit nyawa berjatuhan demi mengais butiran kilaunya. Parahnya, ketika emas itu kini habis, 'Sang Naga' terbiarkan dalam bengkalainya yang tak mudah dipulihkan.

Di atas kertas, praktik pertambangan liar di Dharmasraya memang tampak menjanjikan kemapanan ekonomi para pelakunya. Tapi kenyataannya, hanya sebagian golongan saja yang dapat menikmati. Sisanya, kerusakan lingkungan yang bagai tak terbendung. Paparan mercuri seperti wabah yang menjalar setiap nadi perairan Dharmasraya .

baca juga: Resmi Dilaunching, BLT Dana Desa di Dharmasraya Mulai Disalurkan

Meski masih di bawah ambang batas, di lokasi itu saja, tak kurang dari 300 hektar bantaran aliran sungai sudah terpapar oleh zat kimia pemicu kangker ini. Akibatnya, sungai yang layaknya menjadi ekosistem surgawi, malah kini berubah bak neraka bagi sejumlah spesies ikan.

Jikapun ikan-ikan itu bertahan, masyarakat takut menangkapnya, karena beranggapan sudah tak lagi layak konsumsi. Dinas Kesehatan Dharmasraya memang tidak menemukan lagi jenis ikan di sungai tersebut.

"Karena juga sudah dangkal ya, saya sendiri memang tidak menampaki ada ikan di lokasi itu. Baik itu di sungainya, maupun di kubangan bekas galian," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Dharmasraya , Rahmadian.

Persoalan terparah ternyata bukan itu. Kerusakan pada aliran sungai, khususnya kawasan hulu. Sebagai sumber air bagi kawasan hilir, seharusnya sungai-sungai tersebut terjaga kualitas airnya. Tapi sejumlah kawasan hulu kini telah berubah jadi endapan merkuri berkepanjangan. Kualitas airnya sama sekali tidak patut, bahkan untuk dinikmati hewan sekalipun.

Dari catatan penulis, setidaknya ada enam hulu anak sungai yang mengalami nasib seperti ini, seperti Batang Kotobalai, Sungai Betung, Batang Siek, Sungai Piruko, dan Bulang. Salah satu yang paling vital juga ada di Batang Nunyo si 'Naga Emas'.

Melawan Penjajah di Zaman Kemerdekaan

Emas sendiri memang sudah menyejarah pada riwayat panjang Dharmasraya . Sejak zaman kerajaan lama, emas menjadi alat transaksi sah. Sejumlah koin emas berlogo kerajaan Dharmasraya membuktikan hal ini. Bukti tersebut juga menjadi pertanda betapa kayanya kerajaan itu.

Nama Dharmasraya yang bermakna emas yang berlimpah ini, dilatarbelakangi sejak Sumatera dipimpin Syailendra sejak abad ke 9 M. Jauh sebelum itu, Epik Ramayana telah menyebut Sumatera dengan 'Suvnarupyaka' yang bermakna dataran emas. Limpahan emas di sepanjang aliran sungai dan bukit barisan ini melahirkan nama Dharmasraya , yang berarti emas yang berlimpah.

Kejayaan Dharmasraya lama kelamaan tercium keseantero raya. Aromanya yang kental oleh kemewahan juga merasuki hidung mancung kaum penjajah. Dapat ditebak, misi "gold" dalam hegemoni 3G (gold, gospel, glory) yang menafasi penjelajahan bangsa barat ke dunia timur menemukan tempatnya di Dharmasraya .

Bertahun lamanya praktik pertambangan yang mengutamakan hasil, namun mengenyampingkan perhatian terhadap kelestarian alam jadi aktivitas rutin di Dharmasraya . Bahkan setelah penjajah pergi pun, pola pertambangan seperti ini tetap dipraktikkan. Namun, kali ini yang melakoninya adalah orang Indonesia sendiri.

"Sejak mulai nagari ini ada (Tebingtinggi, red). Sekitar 400 tahun silam, masih dalam Kerajaan Siguntur dulu. Tapi ditambang secara manual, dengan mendulang," ungkap Sekretaris Nagari Tebingtinggi, Nawirman.

Nawirman berkisah, masyarakat memang menggantung kehidupan ekonomi dari mendulang. Namun, bukan dilakukan setiap masa. Hanya pada saat musim panas, dimana kebun karet mengalami penurunan produksi getahnya.

"Diperkirakan pada tahun 1950. Masyarakat mengetahui ada banyak emas di bantaran Batang Nunyo. Itu setelah masyarakat banyak yang berkebun karet di sekitar sana. Saya perkirakan 95 persen masyarakat itu ikut mendulang," ujarnya.

Penambangan secara massal dengan menggunakan dompeng, dimulai sekitaran tahun 2015. Dan sangat menggurita sekitar tahun 2010 hingga 2013. Dari situlah, para penambang begitu menggila, sehingga pengurasan emas begitu signifikan.

"Ratusan dompeng. Saya masih ingat itu. Tak capai lima tahun, emas sudah habis. Ada sekitar 30 km panjang Batang Nunyo kini terkurasi," ungkapnya.

Mengasuh Sang Naga

Apapun alasannya, praktik ilegal mining emas di Dharmasraya tak bisa lagi ditolerir apabila pemerintah dan masyarakat Dharmasraya menimbang masa depan negeri petrodolar tersebut. Tapi, langkah penyelamatan tidak mungkin dilakukan dengan serta merta menghentikan praktik pertambangan 'Bak Membunuh Penyakit dengan Sebutir Pil Pahit'.

Hari ini, emas yang dimaksud tidak lagi berupa materi butir kuning berkilau yang dapat disaring dari tanah sepanjang aliran itu. Sebuah program rehabilitasi sisa tambang seolah ingin menyadarkan bahwa kilau emas itu justru lebih berharga di atas permukaan tanah dan air.

Dimotori Ditjen Pemulihan Lahan Akses Terbuka, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, sebuah program rehabilitasi dilakukan. Masyarakat disadarkan bahwa kilau emas yang sesungguhnya di 'Naga Emas' adalah keindahan dan kelestarian lingkungannya. Namanya Edu Eco Green atau Edu Eco Wisata. Dari 300 ha yang rusak, untuk tahap awal, diolah seluas 5 ha.

"Edu Eco Wisata ditunjuk oleh kementerian memang karena masyarakat dan nagari di sana sangat mendukung. Program memang dikhususkan pada bekas tambang ilegal yang sudah ditinggalkan. Ini yang kita coba kembangkan. Lokasi akan ditanami berupa jenis bambu," ungkap Kasi Kerusakan Lingkungan, Dinas Lingkungan Hidup, Pemprov Sumbar, Teguh Ariefianto.

Sebelumnya, kata Teguh, memang pihaknya meminta Pemkab Dharmasraya untuk mengajukan proposal yang diteruskan ke kementerian. Dia menjabarkan, syarat program diantaranya, lokasi berada di luar kawasan hutan. Kemudian tanahnya bukan tanah pribadi atau yang bersertifikat. Yang ketiga ada jaminan dukungan, kesepakatan ulayat, bahwa sepakat lahan akan dilakukan pemulihan.

"Dari lahan itu kita coba akomodir pemkab mengajukan proposal. Saat rakernis, kita apungkan itu. Ini loh ada proposal dan dibahas. Pemkab sudah menjamin kalau kegiatan dilaksanakan tidak akan dirubah dan secara berkelanjutan. Syarat dan kriteria yang ditentukan memang sudah terpenuhi," ujarnya.

Menurutnya, dari pemetaan sosial, maka pengelolaan projek harus memiliki badan hukum. Maka dibentuk Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag).

"Hasilnya nanti dibagi-bagi. Dicadangkan sekian persen untuk pemulihan yang di luar 5 hektar. Sekarang sudah dalam proses perubahan final Detail Engineering Design (DED). Mudah-mudahan awal tahun ini sudah selesai lelang dan mulai pada pelaksanaannya. Selain kementerian, di Dharmasraya beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) juga berkontribusi untuk rencana kegiatan ini," pungkasnya.

"BUMNag sudah ada. Akta notaris dan SK Nagari juga sudah ada. Tinggal menjalankan saja," tambah Sekretaris Nagari Tebingtinggi, Nawirman.

Dapat disimpulkan, program ini juga menjadi sebuah petuah bagi penerus bangsa. Bahwa anak Dharmasraya masa depan, harus sadar pentingnya menjaga lingkungan. 'Setelah naga dibunuh, merekalan yang menghidupkannya kembali'. (*)

Penulis: Agusmanto