Kata Mereka Tentang Nadi yang Ingin Membangun Literasi di Pessel

"Di sini kami memanggilnya Nadi. Almarhum ibarat urat nadi di Teater Imam Bonjol ini,"
Salat Gaib oleh Teman-teman Nadi di UIN Imam Bonjol Padang (Cecep/Klikpositif)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Rabu sore tadi, sosok Julnadi masih berasa di ruang berukuran 3x10 teater Imam Bonjol (IB), Universitas Islam Negeri Imam Bonjol.

Cengkrama rekan sejawat, junior, dan senior almarhum memang tak lepas dari mengenang masa-masa berjuang bersama Julnadi.

Ya, gelak tawa lantang, senyum manja, terkesan rileks namun total untuk menghasilkan karya, menjadi adukan obrolan rekan-rekan almarhum usai menggelar Salat Gaib, pada ba'da Ashar.

Alat musik seperti bansi, talempong, biola, dan gajon sisa latihan musikalisasi puisi almarhum pada Senin malam, masih berserakan dalam base home teater.

"Di sini kami memanggilnya Nadi. Almarhum ibarat urat nadi di Teater Imam Bonjol ini," ungkap Zelfeni Wimra, salah seorang senior almarhum.

Sultan Indra, rekan lainnya mengisahkan, obsesi dan cita-cita besar almarhum. "Nadi memang berniat membangun dunia literasi di Kabupaten Pesisir Selatan, terutama pada sudut atau berbasis sejarahnya," ungkap Sultan Indra yang biasa disapa Iin ini.

Bukan tanpa alasan, kata Iin, obsesi itu lahir mengingat literasi sejarah di Pessel terkesan masih kabur, terutama bagi pencerahan generasi muda.

"Kami bersama Nadi, masih memperjuangkan itu. Bagaimana literasi di Pessel yang masih rendah dapat terangkat," ujarnya.

Salah satu yang dalam penggarapan adalah pembuatan film dokumenter seputaran sejarah dan objek wisata Pessel.

"Sinopsisnya sudah lolos di Yogyakarta. Tiga hari ke depan itu penentuannya. Tinggal menunggu kabar di Bali," ujar Iin.

Selain penggarapan film, tambah Iin, almarhum juga konsen dengan musikalisasi puisi. Namun, di kampus, almarhum sangat terkenal sebagai pembaca puisi.

Baca: Kecelakaan, Wartawan Jawapos Group Meninggal ... Baca halaman selanjutnya