Fadli Zon Ingatkan Gagasan dan Cita-cita Pendiri Bangsa

"Makan tiga kali sehari dan bergizi, pakaian dan hunian yang layak, kalau sakit bisa berobat ke rumah sakit, dan kalau sudah tua ada jaminan hari tua. Itu kebahagiaan rakyat kata Bung Hatta. Kelihatannya sederhana, tapi sulit untuk diwujudkan"
Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon (KLIKPOSITIF/ Cecep Jambak)

KLIKPOSITIF -- Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon mengingatkan untuk kembali kepada gagasan dan cita-cita awal para pendiri bangsa untuk Indonesia saat ini. Hal itu ia katakan saat menghadiri acara ‘Ngopi Bareng Fahri Jilid Ke-8’ di Yellow Truck Coffee, Bogor, Jawa Barat, Rabu malam (21/3/2018).

“Kita harus mereview kepada apa yang diinginkan oleh para pendiri bangsa kita, karena kita mempunyai utang kepada mereka,” ucap politisi Partai Gerindra itu, di depan ratusan netizen yang memenuhi area pertemuan acara.

Fadli mengutip empat cita-cita bangsa yang dicanangkan salah satu founding father Indonesia, Bung Hatta. Pertama, mencapai kebahagiaan rakyat. Dalam artian rakyat mendapatkan kecukupan dalam lingkup sandang, pangan, dan papan.

“Makan tiga kali sehari dan bergizi, pakaian dan hunian yang layak, kalau sakit bisa berobat ke rumah sakit, dan kalau sudah tua ada jaminan hari tua. Itu kebahagiaan rakyat kata Bung Hatta. Kelihatannya sederhana, tapi sulit untuk diwujudkan,” jelas Fadli.

Kedua, lanjut Fadli, kesejahteraan rakyat. Hal ini memang relatif, karena bagi sebagian orang uang nilai satu juta rupiah itu sudah besar, namun tidak dengan sebagian orang lain yang terasa masih kurang dengan nilai satu juta rupiah.

“Kesejahteraan itu artinya hidup di Indonesia ini tidak menjadi sia-sia, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai sesuatu, jika itu kemampuannya” imbuh Fadli.

Fadli melanjutkan, dalam teori pembangunan, yang dicetuskan oleh satu dosennya Amartya Sen di Lord Meghnad Desai dari London School of Economics, dalam bukunya Development as Freedom, mengatakan bahwa pembangunan itu adalah kebebasan untuk melakukan ekspansi dari semua kemampuan manusia. “Jadi pusatnya dari pembanguan itu manusia, karena itulah lahir Indeks Pembangunan Manusia (IPM),” jelasnya.

Ketiga, kemerdekaan individu untuk bebas berkumpul, ... Baca halaman selanjutnya