Menyilau Kata, Mengenang Mereka yang Mati Muda

Pementasan puisi 'Menyilau Kata, Mengenang Mereka yang Mati Muda' digelar UIN Imam Bonjol.
Pementasan puisi 'Menyilau Kata, Mengenang Mereka yang Mati Muda' digelar UIN Imam Bonjol. (istimewa)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Teater Kampus UIN Imam Bonjol Padang menggelar pementasan yang bertajuk "Menyilau Kata, Mengenang Mereka yang Mati Muda". Pementasan itu sengaja di persembahan untuk mengenang karya Julnadi Inderapura semasa hidupnya.

Almarhum Julnadi yang akrab disapa Nadi jauh tidak hanya berkiprah didunia jurnalis. Jauh sebelum menggeluti profesi sebagai wartawan Nadi sudah aktif di teater kampus (Teater Iman Bonjol Padang). Berbagai karya telah dilahirkan Nadi, mulai dari menjadi aktor sehingga berada dipuncak pencariannya menjadi seorang sutradara.

Dua karyanya "Pesan Terkubur" dan "Mencari Mampus" menjadi pusaka peninggalan almarhum. Bahkan, pementasan Mencari Mampus pernah mewakili IAIN Imam Bonjol Padang (sekarang UIN) di Taman Budaya Pekanbaru-Riau pada tahun 2012 silam.

Baca Juga

Namun siapa yang bisa menebak ajal, Julnadi meninggal dalam tabrakan maut di kawasan Guguak, Kabupaten Solok saat akan berangkat ke Sawahlunto untuk menjalankan tugas peliputannya pada Selasa 20 Maret 2018 lalu. Dunia kesenian berduka, insan pers berduka, mereka kehilangan sosok murah senyum dan pandai bergaul.

"Nadi tidak hanya menjadi aktor dan sutradara yang baik, Almarhum juga menulis puisi dan pandai bermain musik," sebut salah satu senior Nadi, Firdaus Diezo di sela-sela pementasan, Sabtu Malam di Aula H. Mansur UIN Iman Bonjol Padang.

Dikatakannya, yang berkesenian dikenang dengan kesenian yang berkarya dikenang dengan karya. Pementasan tersebut merupakan sebuah persembahan untuk almarhum karena selama hidupnya telah banyak berkotribusi untuk kesenian, apalagi untuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Iman Bonjol Padang.

Dalam pementasan, Diezo mempersembahkan puisi Khairil Anwar "Karawang Bekasi" untuk mengenang Nadi. Ratusan orang dalam pementasan itu, mereka datang dari komunitas teater di Sumbar, insan pers, UKM bahkan ada yang datang langsung kawan sejawat berkesenian di Sawahlunto.

Senada dengan Diezo, Iin Muhidin salah seorang penggiat literasi di Sumbar menyebutkan, Almarhum punya rencana besar soal literasi dan kesenian, bahkan mereka sedang menggarap film dokumenter soal seni dan pariwisata didaerah itu.

"Kami sangat kehilangan, malam ini kami tumpah ruahkan dalam bentuk puisi dan biografi perjalanan hidup almarhum. Begini cara kami mengenang," ujarnya dengan mata berkaca - kaca.

Sementara Ketua Teater Iman Bonjol Padang, Oki Syahputra mengatakan, kehilangan Nadi merupakan kehilangan yang ketujuh anggota Teater Imam Bonjol. Mulai dari almarhum Oky Lutfi (2004), Leni Waty (2005), Jhon Iswandi (2008), Yulianti Warman (2009), Riki Permadona (2014), Tegar Dani Putra Nusantara (2016), Julnadi (2018).

"Mereka kami kenang dengan karya dan sudah menjadi tradisi di UKM Teater Iman Bonjolsebagai bentuk kehormatan. Karya mereka akan tetap hidup" tutur Oki.

Ditambahkannya, pementasan "Menyilau Kata, Mengenang Mereka yang Mati Muda" dikemas dalam bentuk pembacaan puisi, dramatisasi puisi dan musikalisasi puisi. "Teruntuk mereka yang mati muda," tutupnya.

[Joni Abdul Kasir]

Penulis: Agusmanto