Industri Pertahanan Harus Berorientasi Ekspor

Ilustrasi
Ilustrasi (pixabay)

KLIKPOSITIF -- Keterkaitan antara pembangunan industri pertahanan dengan kebijakan luar negeri tak terbantahkan. Apalagi dengan melihat dinamika yang cepat dan kompleks di lingkungan kawasan dan global.

Berbagai pembelian alutsista serta transfer of technology mau tidak mau akan melibatkan peran Kementerian Luar Negeri. Bahkan, pembangunan industri pertahanan sudah selayaknya berbanding lurus dengan luas wilayah dan bertujuan untuk menimbulkan deterrence effect.

baca juga: Siap-siap, Mulai 1 Juli Akan Ada Pajak Digital

Di tataran nasional , industrialisasi pertahanan diyakini akan ikut membantu pertumbuhan ekonomi , menjadi poros bagi arah pengembangan inovasi dan teknologi, serta meletakkan dan memperkokoh landasan bagi industri nasional.

“Karena itu, pengadaan (alat) pertahanan yang berkelanjutan memiliki peran penting dalam pembangunan industri dan ekonomi nasional,” kata Dr. Connie Rahakundini Bakrie, Dewan Pengawas Pinhantannas (Perkumpulan Industri Pertahanan Swasta Nasional ) saat memberi pemaparan kepada peserta Sesdilu 60 di Pusdiklat Kemlu, Jakarta, 30 April 2018.

baca juga: Penerapan New Normal Indonesia, Ahli: Ada Desakan Kapital

Kedepan, Connie Bakrie juga menggarisbawahi peran penting swasta dalam industri pertahanan. Antara lain, menghemat anggaran negara, mendorong inovasi, dan ekspor. Ini semua karena industri pertahanan swasta memiliki arrangements security dengan banyak pihak.

Upaya penguatan industri pertahanan dalam negeri diharapkan dapat membangun kemampuan memproduksi alat utama sistem senjata (alutsista) yang berkelanjutan dan mandiri. Namun upaya ini harusnya tidak berhenti pada produksi dan kepemilikan alutsista saja, tapi juga harus dapat mempertahankan kelaikan pakainya. Kemandirian alutsista , selain mencukupi kebutuhan sendiri juga bisa menjadi produk ekspor.

baca juga: Tanggapi Skema New Normal, Fadli Zon: Rakyat Bukan Kelinci Percobaan

“Ada lima hal yang bisa dipakai untuk mengukur sejauh mana pengembangan dan kemajuan industri pertahanan, yaitu kandungan lokal, profesionalisme SDM dan inovasi teknologi, pembangunan infrastruktur, serta meningkatnya penggunaan produk termasuk lewat ekspor,” tambah Connie yang juga merupakan Direktur Eksekutif Institute of Defence and Security Studies (IODAS).

Pada akhir pertemuan, Connie Bakrie yang juga aktif menulis dan berbicara di media massa, menyampaikan apresiasinya atas ide-ide cerdas para peserta Sesdilu 60. Salah satunya adalah gagasan Felicia untuk melihat pasar industri pertahanan PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa), dimana Indonesia masuk dalam 10 besar negara penyumbang pasukan penjaga perdamaian PBB. (*)

baca juga: Total Sudah 120 Orang Klaster Pasar Raya Padang Positif COVID-19

Sumber: Pusdiklat

Penulis: Eko Fajri