Capital Outflow Akan Terus Tekan Rupiah

"Menurut saya, peningkatan suku bunga acuan oleh BI adalah panic button. Itu dilakukan untuk menahan capital outflow dana asing. Capital outflow akan membuat nilai tukar rupiah terus tertekan"
Ilustrasi (KLIKPOSITIF)

KLIKPOSITIF -- Capital outflow (aliran modal asing keluar) yang terjadi di dalam negeri akan terus menekan rupiah. Ini sangat krusial dan kritis bagi upaya penguatan kembali rupiah. Saat ini aliran modal keluar sudah mencapai Rp8,6 triliun sejak awal 2018.

Anggota Komisi XI DPR RI Heri Gunawan mengungkap hal ini dalam wawancaranya lewat sambungan telepon kepada Parlementaria, Rabu (2/5/2018). Sementara upaya Bank Indonesia (BI) meningkatkan suku bunga acuan untuk menstabilkan rupiah dan menahan modal asing keluar dinilai hanya aksi kepanikan belaka.

“Menurut saya, peningkatan suku bunga acuan oleh BI adalah panic button. Itu dilakukan untuk menahan capital outflow dana asing. Capital outflow akan membuat nilai tukar rupiah terus tertekan,” kata Heri.

Sebetulnya, lanjut Heri, peningkatan suku bunga BI hanya langkah sementara untuk mencegah kepanikan. Justru pemerintah disarankan untuk mengobati masalah fundamental dengan memperkuat kinerja ekonomi domestik. Pemerintah juga harus menjaga daya beli masyarakat dengan menciptakan stabilitas harga, baik BBM, listrik, maupun pangan. Apalagi, ini jelang Ramadhan yang biasanya semua harga komoditas melonjak.

Ditambahkan politisi Partai Gerindra itu, langkah lain yang penting dilakukan pemerintah adalah menyimpan devisa hasil ekspor. “Penting melakukan pengetatan devisa hasil ekspor yang wajib disimpan di bank dalam negeri minimum enam bulan, sehingga bisa mendorong pembelian rupiah,” imbau Heri.

Untuk diketahui, sambung Heri, akhir Februari 2018 cadangan devisa (cadev) tergerus cukup dalam sebesar 3,92 miliar dolar AS hanya dalam waktu satu bulan. Tergerusnya cadev disebabkan oleh stabilitasi nilai tukar rupiah. (*)

Sumber: dpr.go.id