Teknologi Ini Diklaim Bisa Menghemat Biaya Listrik Rp440 Juta per Tahun

Ilustrasi Chiller
Ilustrasi Chiller (Asg Architechtur)

EKONOMI, KLIKPOSITIF -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM ) membidik teknologi baru yang bisa mengefisiensi konsumsi energi dan menekan biaya operasional.

Teknologi itu disebut dengan Green Chiller. Teknologi ini merupakan sistem pendingin berbasis hidrokarbon ramah lingkungan dapat menghemat listrik hingga 30%.

baca juga: Perovskite, Mineral Baru Sumber Energi Listrik Masa Depan

PT Phapros Tbk di Semarang, Jawa Tengah, menjadi pelaku industri pertama yang menggunakan sistem pendingin hidrokarbon tersebut di Indonesia.

Berkapasitas masing-masing sebesar 231.9 kW dengan isi refrigeran hidrokarbon sebanyak 30 kg, Green Chiller diperkirakan mampu menghemat penggunaan listrik sampai dengan 394.311 kWh/tahun atau setara dengan Rp 440 juta/tahun.

baca juga: Perkuat Tata Kelola Pertambangan Rakyat, ESDM dan DPR Bahas RUU Minerba

"Dengan penghematan bisa mencapai 440 juta pertahun, ini merupakan proyek yang sangat menguntungkan. Pengembalian biaya investasi selama 2,52 tahun, seharusnya ini bisa diterapkan oleh industri sejenis," kata Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM ), Rida Mulyana.

Rida menilai, sistem tersebut memiliki banyak manfaat, diantaranya menurunkan biaya operasional karena menggunakan teknologi yang lebih efisien.

baca juga: Kuartal I 2020, SKK Migas Temukan Cadangan 136,5 Juta BOE di Tiga Lapangan

Teknologi tersebut juga akan beroperasi dengan tekanan kerja yang 20% lebih rendah dibandingkan dengan refrigeran fluorocarbon.

Hal ini diharapkan dapat mengurangi konsumsi energi antara 17%-30% dibandingkan dengan penggunaan refrigeran fluorocarbon.

baca juga: ESDM: Pembangunan Proyek Tenagalistrik Akan Tetap Jalan Sesuai Rencana

Selain dapat menghemat penggunaan dan biaya listrik, implementasi chiller berbasis hidrokarbon ini juga mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 356 tCO2/tahun atau 7.121 tCO2 selama 20 tahun (masa pakai).

Chiller hidrokarbon pertama mulai dipasang di pabrik Phapros pada akhir 2017, menyusui kemudian chiller kedua pada Januari 2018.

Chiller tersebut digunakan untuk mendinginkan berbagai ruangan untuk produksi obat, penyimpanan dan pembiakan bakteri di gedung produksi PT Phapros Tbk di Semarang.

Kementerian ESDM terus mendorong para pelaku industri agar dapat melaksanakan program konservasi dan efisiensi energi, sehingga komitmen Indonesia untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebagaimana dideklarasikan dalam Paris Agreement dapat terwujud.(*)

Sumber: Kementerian ESDM

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa