Kisah Mardiah, Korban Banjir di Pulai Anak Aia Bukittinggi

"Kendati banjir surut hari pertama, hari kedua banjir datang dengan debit yang jauh lebih besar "
Mardiah, Salah satu korban banjir bukittinggi (Hatta Rizal/KLIKPOSITIF)

BUKITINGGI, KLIKPOSITIF -- Banjir terjadi dua kali dalam dua hari di Bukittinggi, termasuk di Kelurahan Pulai Anak Aia, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, sejak Sabtu-Minggu (19-20) Mei 2018.

Kendati banjir surut hari pertama, hari kedua banjir datang dengan debit yang jauh lebih besar akibat luapan air di Banda Malang.

Mardiah (63) warga RT 1 RW 1 Kelurahan Pulai Anak Aia, satu dari sekian banyak warga yang harus terdampak dua kali.

"Pada Sabtu, sehabis berbuka rumah saya tergenang air, barang-barang banyak yang basah," sebut Mardiah.

Selepas air surut pada tengah malamnya, ia kemudian membersihkan barang-barangnya.

"Semuanya sudah bersih dan tertata pada pagi tadi, tapi tiba-tiba banjir datang lagi, lalu semuanya berantakan," ucapnya.

Banjir yang datang pukul 14.00 wib Minggu 20 Mei 2018, sebut Mardiah sangatlah besar.

"Tadi saya naik ke atas meja, airnya nyaris menyentuh saya. Biasanya tak pernah seperti ini," katanya.

Beruntung, tim SAR cepat tanggap dan langsung mengevakuasinya menuju tempat aman.

"Sekarang, saya belum ke rumah kendati air sudah surut, entah seperti apa bentuk rumah sekarang," ucapnya membayangkan rumahnya yang diterjang banjir setinggi 1,5 meter.

Ia menyebut, sejak tinggal di kawasan tersebut pada umur 9 tahun, kejadian ini sudah sering terulang, namun yang terjadi hari ini adalah yang terparah.

Mardiah bersama beberapa pengungsi lainnya saat ini memilih bertahan di pos ronda untuk menanti air surut sepenuhnya.

Data dari BPBD Bukittinggi, tercatat sebanyak 69 rumah di Bukittinggi terdampak banjir, 60 diantaranya berada di Pulai Anak Air.

[Hatta Rizal]