Ekonom Muslim Indonesia Meninggal di RS Islam Cempaka Putih

"Dia dikenal sebagai ekonom dan pakar ekonomi. Dawam menghasilkan banyak karya tulis lewat Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur'an yang dia pimpin."
M. Dawam Rahardjo bin M. Zuhdi (76) wafat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat (lampungpro)

KLIKPOSITIF -- Cendekiawan Muslim M. Dawam Rahardjo bin M. Zuhdi (76) wafat di Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Rabu (30/5/2018) pukul 21.55 WIB. Rencananya jenazah Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan, hari ini Kamis (31/5/2018) selepas salat Zuhur.

Kabar meninggalnya Dawam disampaikan Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly Assidiqqie di akun Twitternya, Kamis malam. "Innalillahi wanna ilaihi rojiuun. Mari Kita doakan yg terbaik, bpk Prof. M. Dawam Rahardjo barusan menghembuskan nafas terakhir kembali ke haribaan-Nya. Alfatihah... Insya Allah, husnulkhotimah," kata Jimly, dilansir dari Lampungpro jaringan Klikpositif News Network (KPNN).

Ekonom Muslim tersebut mengembuskan nafas terakhir setelah dirawat 20 hari di ruangan Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Islam Cempaka Putih. Menurut petugas ICU, Dawam menderita penyakit diabetes, jantung, dan stroke. Pada akhir Januari 2018, Dawam sempat menjalani perawatan intensif selama tiga bulan di rumah sakit karena penyakit yang sama.

Dawam Raharjo yang pernah menjabat Ketua ICMI ini lahir di Solo, Jawa Tengah, 20 April 1942. Dia dikenal sebagai ekonom dan pakar ekonomi. Dawam menghasilkan banyak karya tulis lewat Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur'an yang dia pimpin.

Dia juga tercatat sebagai Ketua Yayasan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (ELSAF) dan bergabung di Lembaga Penelitian dan Pembangunan Ekonomi-Sosial (LP3ES) sebagai staf peneliti. Sejumlah karya Dawam Rahardjo yakni Esai-Esai Ekonomi Politik (1983), Deklarasi Mekah: Esai-Esai Ekonomi Islam (1987), Etika Bisnis dan Manajemen (1990), Habibienomics: Telaah Pembangunan Ekonomi (1995), Paradigma Alquran: Metodologi dan Kritik Sosial (2005), Nalar Politik Ekonomi Indonesia (2011). (*)