Ternyata, Ini yang Digunakan Dua Napi Lapas Narkotika Sawahlunto untuk Melarikan Diri

"Petugas Lapas menemukan kain sarung tersangkut dipagar tembok dengan bekas bercak darah. "
Petugas lapas menemukan sarung yang diduga digunakan napi kabur (Muhammad Haikal/KLIKPOSITIF)

SAWAHLUNTO, KLIKPOSITIF -- Dua warga binaan kabur dari Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas III Sawahlunto. Dua warga binaan itu menggunakan kain sarung yang sering digunakan salat untuk melarikan diri.

Petugas Lapas menemukan kain sarung tersangkut dipagar tembok dengan bekas bercak darah. Dipastikan darah tersebut karena kawat berduri yang terpasang.

Diketahui kedua narapidana bernama Aswadi Lubis (39) dan Efrizal Lubis (27). Keduanya merupakan napi kasus penyalahgunaan narkotika dengan putusan pidana selama 9 tahun 6 bulan dan sudah menjalani masa hukuman selama 1 tahun. Mereka ditangkap di Talu, Pasaman Barat.

Kalapas Narkotika Kelas III Sawahlunto, Nasir, menyayangkan peristiwa tersebut terjadi, karena sikap kedua napi dalam keseharian yang rajin beribadah.

"Karena mereka rajin beribadah, sebelum salat biasanya mereka mengaji dulu, itu dilakukan setiap hari. Aswadi kalau azan dan jadi imam suaranya merdu, ini kan kain sarungnya" kata Nasir sembari mengangkat sarung tersebut di Lapas Narkotika Kelas III Sawahlunto, Senin, 25 Juni 2018.

Sikap yang ditunjukkan oleh kedua napi tersebut membuat pihak Lapas memberikan kepercayaan untuk mengurus Masjid. "Karena itu diberi kepercayaan mengurus masjid, Masjid mereka juga yang mengecatnya," ulasnya.

Nasir melanjutkan, kepercayaan yang diberikan disia-siakan oleh kedua Napi tersebut. Padahal keduanya sudah dalam perhatian untuk diajukan pemotongan masa tahanan pada moment tertentu.

"Dengan sikap dan perilakunya yang baik tentunya kami tidak membiarkan begitu saja, sudah dalam perhatian mengajukan remisi untuk mereka. Tapi apa, mereka menyiakan itu," tambahnya.

Masih kata Nasir, kaburnya napi tersebut memanfaatkan kelengahan petugas jaga. Dan sebagian petugas Lapas mengikuti pendidikan di Padang sampai pertengahan Juli 2018 nanti.

"Mereka memanfaatkan kelengahan petugas, pada saat itu dijaga oleh tiga orang. Saat ini ... Baca halaman selanjutnya