Gunung Agung Masih dalam Fase Erupsi Panjang

Gunung Agung pukul 10.21 WITA, Jumat 29 Juni 2018
Gunung Agung pukul 10.21 WITA, Jumat 29 Juni 2018 (PVMBG)

KLIKPOSITIF -- Saat ini secara visual, aktivitas  Gunung Agung  masih didominasi emisi gas dan abu yang menyertai efusi lava ke dalam kawah (pertumbuhan kubah lava di dalam kawah).

Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana mengatakan ketinggian kolom hembusan berada pada kisaran 1500-2500 m di atas puncak.

baca juga: Gunung Agung Erupsi, Suara Dentuman Terdengar Hingga ke Pos Rendang

Sejak Kamis (28/6/2018) sampai dini hari tadi teramati sinar api di atas kawah yang mengindikasikan kehadiran material lava segar di dalam kawah. Intensitas emisi gas dan abu mengalami penurunan tajam pada sekitar pukul 05.00 Wita.

Dalam periode pukul 06.00-12.00 Wita hembusan masih teramati dengan warna dominan putih setinggi 1500 m di atas puncak.

baca juga: Gunung Agung Erupsi, Status Masih Siaga

Menurutnya, secara kegempaan, aktivitas Gunung Agung masih didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah. Gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah umumnya berkaitan dengan aktivitas aliran fluida.

"Di Gunung Agung , Gempa Hembusan yang terekam biasanya dimanifestasikan di permukaan berupa emisi gas dan atau abu. Tremor yang terekam di Gunung Agung dengan konten frekuensi rendah dimanifestasikan di permukaan berupa aliran lava," paparnya, yang dikutip dari laman suara.com, media jaringan KLIKPOSITIF .com.

baca juga: Gunung Agung Erupsi, Status Masih Siaga

Jumlah Gempa Hembusan mengalami peningkatan sejak 25 Juni 2018 dengan 15 gempa per hari dan pada 28 Juni 2018 jumlahnya mencapai 69 gempa per hari.

Pada 27 Juni 2018 gempa frekuensi rendah lainnya yaitu Tremor Harmonik terekam sebanyak 5 kali dengan durasi berkisar 70-292 detik.

baca juga: PVMBG: Tekanan Magma Gunung Agung Belum Siginifikan

Pada 28 Juni 2018 sejak Tremor dengan konten frekuensi rendah terekam secara menerus mulai pukul 14.00 Wita dan berlangsung hingga sekitar pukul 04.00 Wita pada 29 Juni 2018. Setelah itu hingga pukul 12.00 Wita aktivitas didominasi oleh kegempaan Hembusan.

Amplitudo seismik Gunung Agung mengalami peningkatan sejak 27 Juni 2018 sekitar pukul 20.30 Wita atau sekitar 2 jam sebelum Gempa Letusan pada 27 Juni 2018 pukul 22:21 Wita. Pada 28 Juni 2018, peningkatan amplitudo seismik teramati mengalami peningkatan sejak sekitar pukul 09.00 Wita, amplitude maksimum terjadi pada sekitar pukul 21.30 Wita.

Setelah itu, amplitude seismik cenderung konstan sebelum akhirnya menurun tajam pada pukul 05:00 Wita. Setelah itu, pola amplitude seismik cenderung stabil.

Sementara peralatan deformasi (GPS dan Tiltmeter) merekam pola inflasi sejak 13 Mei 2018 hingga saat ini dengan kenaikan vertical (uplift) sekitar 5 milimeter.

"Uplift yang terjadi saat ini masih lebih rendah dari pada periode September-Oktober 2017 yang mencapai 6 sentimeter," katanya.

Secara geokimia, gas magmatik SO2 terakhir kali sebelum erupsi Juni 2018 ini terukur dengan fluks pada kisaran 200 ton per hari. Citra satelit termal merekam adanya Hotspot (titik panas) di dalam kawah Gunung Agung pada hari ini dengan energy termal mencapai 819 Megawatt dan ini merupakan energy termal terbesar yang pernah terekam sepanjang krisis Gunung Agung 2017-2018. Pada periode erupsi akhir November 2017 lalu energy termal yang terekam maksimum mencapai 97 Megawatt.

Data pemantauan yang komprehensif mengindikasikan bahwa fenomena emisi gas dan abu yang terjadi secara menerus dari kemarin hingga saat ini merupakan bagian dari erupsi Gunung Agung yang terjadi secara efusif, yaitu berupa aliran lava segar ke dalam kawah (pertumbuhan kubah/kolam lava).

Hal ini juga diindikasikan dari tingginya energi termal yang terekam di kawah Gunung Agung dimana material lava yang memiliki temperatur yang sangat tinggi (1200 derajat Celsius) mengalir mengisi kawah. Volume lava yang berada di dalam kawah Gunung Agung masih belum dapat diestimasi.

Dia menambahkan erupsi efusif (aliran) dapat bertransisi ke erupsi eksplosif (lontaran). Hal ini bergantung pada dinamika magma di dalam tubuh Gunung Agung . Dalam fase erupsi efusif, beberapa fenomena yang mengiringi dapat berupa suara gemuruh, suara dentuman hingga lontaran lava pijar di sekitar kawah dapat terjadi.

"Hingga saat ini Gunung Agung masih berada dalam fase erupsi panjangnya dan dari aktivitas yang terekam masih mengindikasikan bahwa sistem magmatik Gunung Agung masih sangat dinamis dan belum stabil," ungkapnya.

Berdasarkan analisis data dan potensi bahaya erupsinya maka disimpulkan bahwa tingkat aktivitas Gunung Agung saat ini berada dalam Status Level 3 (Siaga).

Rekomendasi untuk warga dan wisatawan masih tetap sama agar tidak berada, tidak melakukan pendakian dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya yaitu di dalam area kawah Gunung Agung dan di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak Gunung Agung . Selain itu masih warga juga diimbau untuk membawa masker dikhawatirkan masih ada abu vulkanik yang turun. (*)

Penulis: Iwan R