Minim Pengawasan, Industri Pangan Dikhawatirkan Ancam Kesehatan Anak

"Berdasarkan data BPOM tahun 2016, sebanyak 14,9 persen dari sampel pangan tercatat tidak memenuhi syarat"
Penandatangan Komitmen Bersama Pemprov Sumbar dan Badan POM dalam Pengawasan Obat dan Makanan di Sumbar (Joni/KLIKPOSITIF)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Sedikitnya 4 ribu pelaku industri pangan skala rumah tangga di Sumatra Barat membutuhkan pengawasan dan pendampingan. Apalagi, sebagian produk pangan kemasan yang dipasarkan menyasar sekolah-sekolah dengan konsumennya adalah anak-anak.

Minimnya pengawasan dikhawatirkan mengancam kesehatan anak-anak sekolah. Berdasarkan data BPOM tahun 2016, sebanyak 14,9 persen dari sampel pangan tercatat tidak memenuhi syarat. Angka ini hanya turun tipis dibanding sampel pangan tidak memenuhi syarat di tahun 2015 sebanyak 16,2 persen.

Menilik pembagian tugasnya, pengawasan makanan kemasan masuk ke kewenangan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Namun ternyata BPOM tak bisa berjalan sendiri. Dalam mata rantai pengawasan dan pendampingan, Pemerintah Daerah (Pemda) juga harus turun tangan sebagai pembuat kebijakan.

"Dalam beberapa hal, penuntasan pengawasannya ada di Pemda. Kami mencatat, baru 30 persen pengawasan yang ditindaklanjuti (oleh Pemda)," jelas Deputi III BPOM Tetty Helfery saat membuka Rakor Pemprov Sumbar dan Badan POM dalam Rangka Gerakan Keamanan Pangan Menuju Indonesia Berdaulat, Rabu (25/7).

Menurutnya, butuh koordinasi yang lebih baik antarinstansi di Sumatra Barat agar ketahanan dan keamanan pangan bisa terwujud. Sejumlah poin yang harus diperhatikan, di antaranya adalah kelayakan sanitasi industri pangan, pengetahuan pelaku usaha mengenai higienitas, dan penggunaan bahan-bahan yang dilarang.

"Hal ini misalnya, berkaitan dengan ketersediaan air bersih. Dan urusannya tentu berkaitan dengan Pemda," jelasnya.

Ia menambahkan, masyarakat sebagai konsumen juga perlu diberikan edukasi mengenai keamanan pangan. Namun tantangannya saat ini, lanjut Tetty, adalah sasaran sosialisasi yang sebagian besar adalah generasi milenial. Kondisi ini membuat BPOM harus memutar otak untuk mengemas bentuk promosi yang cocok dengan targetnya.

"Cara edukasi harus diupdate sesuai zaman ... Baca halaman selanjutnya