Dari 127 Gunung Api Aktif di Indonesia, 69 Gunung dalam Pantauan

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Indonesia dikenal berada pada jalur ring on fire atau pertemuan tiga lempeng bumi, yakni lempeng lempeng Indo-Australia, Eurasia dan lempeng pasifik.

Selain itu Indonesia juga dikenal dengan gugusan gunung berapi yang membentang di setiap pulau mulai dari Sabang sampai Merauke. Berdasarkan data yang dilansir dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ( ESDM ) dari 127 gunung api aktif di Indonesia, 69 gunung dipantau secara menerus 24 jam setiap hari.

baca juga: New Normal, Pemerintah Bersiap Putar Kembali Roda Perekonomian

Dari 69 gunung api yang dipantau secara terus menerus tersebut sebanyak 21 gunung berstatus diatas normal, yakni G. Sinabung, G. Agung, G. Merapi, G. Ili Lewotolok, G. Banda Api, G. Dempo, G. Bromo, G. Rinjani, G. Lokon, G. Soputan, G. Karangetang, G. Gamalama, G. Sangeangapi, G. Rokatenda, G. Ibu, G. Gamkonora, G. Semeru, G. Anak Krakatau, G. Marapi, G. Dukono, dan G. Kerinci.

Dari jumlah tersebut satu gunung api dalam status awas atau level IV, yaitu G. Sinabung (Sumut) sejak 2 Juni 2015. Satu gunung api status siaga atau level III, yaitu G. Agung (Bali) sejak 10 Februari 2018.

baca juga: Anggota DPR Nilai RUU Omnibus Law Berpotensi Mengekang Kebebasan Pers

Selain itu, 19 gunung api dengan status waspada atau level II (Merapi, Marapi, Kerinci, Dempo, Krakatau, Semeru, Bromo, Rinjani, Sangeangapi, Rokatenda, Soputan, Lokon, Karangetang, Gamalama, Gamkonara, Ibu, Dukono, Lewotolok dan Banda Api).

Sisanya 48 gunung api berda pada status normal atau level I.

baca juga: Blak-blakan Siti Fadilah, Fenomena Vaksi dan Pendemik

Kondisi Tekini Beberapa Gunung Api di Indonesia

Berdasarkan penejalasan Badan Geologi Kementerian ESDM dalam situsnya per 7 Agustur 2018, berikut kondisi gunung api di Indonesia

baca juga: Menperin dan Pelaku Industri Komitmen Genjot Manufaktur

1. Gunungapi Sinabung (Sumatera Utara).
Kegiatan Gunungapi Sinabung Sumatera Utara yang merupakan salah satu gunungapi paling aktif di Indonesia saat ini, kegiatan erupsi masih berlangsung sejak Tahun 2013. Statusnya saat ini adalah Level IV (Awas).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah utama tidak dapat teramati karena gunung tertutup kabut. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur dan tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 6 Agustus 2018 tercatat:
• 55 kali gempa Hembusan
• 1 kali gempa Tektonik Jauh
• 2 kali gempa Tektonik Lokal

Terjadi pembendungan Sungai Laborus oleh endapan awan panas sejak tanggal 10 April 2017 yang lalu meluncur sejauh 3,5 km dan luncuran awan panas Tanggal 02-03 Agustus 2017 sejauh 4,5 km ke lereng Tenggara dan Timur mencapai Sungai Laborus. Pemeriksaan terakhir Tanggal 28 April 2017 dan pasca luncuran awan panas 02 Agustus 2017 menunjukkan ukuran (lebar, panjang, dan luas) Danau Laborus bertambah besar.

Pembendungan membentuk danau yang berpotensi menyebabkan lahar atau banjir bandang kalau bendungan jebol karena tidak kuat menahan volume air.

Mengingat telah terbentuk bendungan di hulu Sungai Laborus maka penduduk yang bermukim di hilir di sekitar daerah aliran sungai Laborus agar tetap menjaga kewaspadaan karena bendungan ini sewaktu waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air sehingga mengakibatkan lahar/banjir bandang ke hilir.

2. Gunungapi Agung (Bali).
Pasca erupsi November 2017 hingga awal Februari 2018 kegempaan mengalami penurunan. Gempa frekuensi tinggi (Gempa Vulkanik dan Tektonik Lokal) dan Gempa frekuensi rendah (Gempa Hembusan dan Letusan) masih terekam dengan jumlah yang tidak signifikan. Pemantauan secara visual dengan menggunakan drone yang dilakukan pada tanggal 22 Januari 2018 menunjukkan bahwa volume kubah lava relatif tidak berubah yaitu sekitar 23 juta m3.

Pengukuran deformasi GPS maupun Tiltmeter jika dihitung dari November 2017 hingga saat ini maka secara umum menunjukkan pola deflasi. Citra Satelit masih merekam adanya energi termal di permukaan Kawah Gunung Agung. Pengamatan visual G. Agung dari Pos PGA Agung di Rendang menunjukkan bahwa aktivitas erupsi masih terus terjadi, namun dengan eksplosivitas rendah dan frekuensi kejadian relatif rendah.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 10 Februari 2018 pukul 09.00 WITA status G. Agung diturunkan dari Level IV (Awas) ke Level III (Siaga).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih, bertekanan lemah dengan intensitas tipis setinggi 200 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan timur.
Rekaman seismograf tanggal 6 Agustus 2018 tercatat:
• 1 kali gempa Hembusan
• 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
• 270 kali gempa Tektonik Jauh ( 9 kali merupakan gempa terasa)

Tanggal 7 Agustus 2018 (Pk. 00:00-06:00 WITA) tercatat:
• 1 kali gempa Vulkanik Dangkal
• 65 kali gempa Tektonik Jauh (1 kali merupakan gempa terasa)

3. Gunungapi Krakatau (Lampung).
Gunung Krakatau secara administratif termasuk kedalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, tercatat aktivitas letusan terakhir terjadi pada tanggal 19 Februari 2017, berupa letusan strombolian. Tingkat aktivitas saat ini adalah Level II (WASPADA). G. Krakatau (305 m dpl) mengalami peningkatan aktivitas vulkanik sejak 18 Juni 2018.

Pada umumnya, keseharian aktivitas G. Krakatau secara visual jelas hingga tertutup kabut, pada saat cuaca cerah teramati asap kawah utama dengan ketinggian 300-500 meter dari puncak, bertekanan lemah dengan warna putih dan intensitas tipis hingga sedang. Secara kegempaan, didominasi oleh jenis Gempa Vulkanik Dangkal (VB) dan Gempa Vulkanik Dalam (VA). Selain itu, terekam juga jenis gempa Hembusan, Tektonik Lokal (TL) dan Tektonik Jauh (TJ).

Dari kemarin hingga pagi ini, secara visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup Kabut. Asap kawah teramati berwarna kelabu tebal setinggi 600 m diatas puncak. Pada malam hari teramati adanya sinar api di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat dan timurlaut.

Melalui seismograf tanggal 6 Agustus 2018 tercatat:- Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 3-45 mm (dominan 45 mm).

4. Gunungapi Merapi (Jawa Tengah - Yogyakarta).
Tingkat aktivitas Level II (WASPADA). Merapi (2968 m dpl) mengalami erupsi tidak menerus.

Berdasarkan hasil analisis data visual dan instrumental serta mempertimbangkan potensi ancaman bahayanya, maka pada tanggal 21 Mei 2018 pukul 23.00 WIB status G. Merapi dinaikkan dari Level I (Normal) ke Level II (Waspada).

Dari kemarin hingga pagi ini visual gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah teramati putih tipis setinggi 30 m diatas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah utara - tenggara.
Melalui rekaman seismograf pada 6 Agustus 2018 tercatat:
• 4 kali gempa Guguran
• 1 kali gempa Hybrid
• 6 kali gempa Tektonik Jauh

5. Gunungapi Dukono (Halmahera).
Gunungapi Dukono di Halmahera Utara merupakan salah satu gunung api di Indonesia yang letusannya terjadi relatif menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada). Ancaman bahaya cukup berarti hanya berada di sekitar kawah puncak dan ancaman bahaya lebih luas dimungkinkan melalui sebaran abu vulkanik di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih hingga kelabu, bertekanan sedang, dengan intensitas tebal setinggi 400 - 600 meter di atas puncak. Angin bertiup lemah ke arah uitara - timurlaut.

Melalui seismograf tanggal 6 Agustus 2018 tercatat:
• 3 kali gempa Letusan
• 2 kali gempa Tektonik Jauh
• Tremor menerus dengan amplitudo maksimum 0.5-14 mm (dominan 4 mm)

6. Gunungapi Ibu (Halmahera).
Gunungapi Ibu di Halmahera Utara merupakan salah satu gunungapi di Indonesia yang letusannya sejak tahun 2000 menerus hingga saat ini. Statusnya sekarang adalah Level II (Waspada).

Ancaman bahaya primer utamanya berada di sekitar puncak dan arah sektoral ke arah bukaan kawah Utara, ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di sekitar puncak G. Ibu, serta sebaran abu di udara yang dapat mengganggu penerbangan.

Dari kemarin hingga pagi ini secara visual puncak gunungapi dapat teramati jelas hingga tertutup kabut. Asap kawah/abu erupsi teramati berwarna putih hingga kelabu, dengan intensitas sedang setinggi 200-600 m di atas puncak. Angin bertiup lemah hingga sedang ke arah timur.
Melalui seismograf tanggal 6 Agustus 2018 tercatat:
• 71 kali Gempa Letusan
• 28 kali Gempa Hembusan
• 22 kali Gempa Guguran
• 2 kali gempa Tektonik Jauh. (*)

Penulis: Eko Fajri