Pesawat Pemancar YBJ 6, Si Penyelamat NKRI dari Bukittinggi

"Pemancar ini dinamakan Yengkie Bravo Juliet (YBJ) 6 dan menjadi sarana komunikasi Ketua PDRI Syafruddin Prawiranegara dengan AA Maramis yang saat itu tengah berada di New Delhi"
Pesawat pemancar YBJ 6 yang berperan di periode PDRI. (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

BUKITTINGGI, KLIKPOSITIF -- Satu unit pemancar radio seberat lebih dari 100 Kilogram dan tinggi sekitar 170 centimeter yang tersimpan di Museum Tridaya Eka Dharma Bukittinggi disebut berperan sangat penting ketika Indonesia mengalami agresi Belanda pada tahun 1948-1949, tepatnya di periode Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Pemancar ini dinamakan Yengkie Bravo Juliet (YBJ) 6 dan menjadi sarana komunikasi Ketua PDRI Syafruddin Prawiranegara dengan AA Maramis yang saat itu tengah berada di New Delhi. Keterangan sejarah yang berhasil dihimpun KLIKPOSITIF, petugas museum Tri Daya Eka Dharma, Kopral Satu Ahmad Munir menyebut, peran YBJ 6 dimulai pada 19 Desember 1948.

"Agresi Belanda II pada 19 Desember membuat Ibukota diserang bom. Bukittinggi juga tak luput dari serangan bom dari pesawat udara, sebab saat itu Bukittinggi merupakan ibukota Provinsi Sumatera," ungkapnya.

Sasaran pemboman, kata Kopral Ahmad, yakni perkantoran pemerintah dan stasiun radio. "Stasiun radio Bukittinggi saat itu markasnya di Garegeh, hancur kena bom dan merusak sejumlah pemancar lainnya, yang selamat hanya YBJ 6," ceritanya.

Bersamaan waktunya, Ibukota Indonesia di Yogyakarta jatuh, sejumlah pemimpin besar seperti Soekarno dan Muhammad Hatta ditangkap Belanda. Sebelum ditangkap, Soekarno sempat memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara agar membentuk PDRI dan mengumumkan kepada dunia jika Indonesia tetap ada, saat Belanda menyatakan Indonesia sudah habis.

Sejak itu hikayat YBJ 6 dimulai. Pemancar besar itu digotong para pejuang dari Bukittinggi menempuh medan sulit menuju Koto Tinggi dan Halaban di Kabupaten Limapuluh Kota. Selanjutnya, direncanakan ke Bangkinang, namun urung dilaksanakan karena gencarnya serangan Belanda.

Akhirnya, pemancar itu dibawa ke Lintau, Kabupaten Tanah Datar. Setelah aman baru dibawa kembali menuju Bukittinggi. "Sebab hubungan dengan Yogyakarta sudah terputus, YBJ 6 mengambilalih ... Baca halaman selanjutnya