Kehadiran 16 Orang Suku Anak Dalam Undang Simpati Warga di Pesisir Selatan

"Mereka singgah sekedar beristirahat di pinggiran jalan lintas Sumatera"
Warga Suku Anak Dalam berisitirahat di pinggiran jalan Pesisir Selatan (Istimewa)

PESSEL, KLIKPOSITIF -- Warga Nagari Salido, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan kedatangan tamu dari dari negeri tetangga. Mereka adalah masyarakat yang menghuni pedalaman Muaro Bungo, Jambi.

Jumlah warga pedalaman itu sebanyak 16 orang, mereka menghampiri warga Salido saat sedang melakukan sebuah perjalanan. Di provinsi Jambi, warga pedalaman ini dikenal dengan istilah Suku Anak Dalam (SAD).

Tampak, dalam rombongan SAD tersebut ada sejumlah anak-anak yang juga ikut dalam perjalanan. Di Salido sendiri, mereka singgah sekedar beristirahat di pinggiran jalan lintas Sumatera bagian Barat penghubung Sumbar-Bengkulu.

Kehadiran 16 orang SAD tersebut kemudian mengundang simpati warga, sebab saat beristirahat di pinggiran jalan kawasan itu kondisi mereka kurang fit.

Warga yang bermukim di sekitaran kawasan itu kemudian berinisiatif untuk membantu orang pedalaman itu dengan memberikan sejumlah makanan dan minuman.

"Kami kasihan melihat mereka, lelah sekali sepertinya. Apalagi perjalanan yang mereka tempuh tidak terbilang dekat dan dilakukan tanpa menggunakan alas kaki," kata salah seorang warga, Yuni pada KLIKPOSITIF.

Namun saat ditelusuri, mereka memang sengaja melakukan perjalanan jauh tersebut untuk memenuhi sebuah tradisi yang berlaku di lingkungan Suku Anak Dalam.

Pemimpin rombongan, Tagang (67) menyebutkan, mereka harus melakukan perjalanan jauh meninggalkan kampung halaman untuk membuang sial. Maksudnya membuang sial disini adalah, sebuah tindakan yang harus dilakukan ketika kehilangan anggota keluarga.

Dalam tradisi itu, warga Suku Anak Dalam bisa kembali lagi ke kampung halaman dan beraktifitas seperti biasanya jika perjalanan jauh selesai dilakukan.

Tagang menjelaskan, lama perjalanan yang harus mereka tempuh adalah 32 hari. Hanya saja, di perjalanan mereka kehabisan bekal.

"Kami harus bisa kembali ke kampung, Muaro Bungo. Dengan kondisi sekarang, kami ... Baca halaman selanjutnya