Ormas dan Lembaga Pendidikan Islam Dukung DPR Sahkan RUU Pesantren

"Subtansi rekognisi itu lebih penting daripada terburu-buru karena menyesuaikan momentum-momentum tertentu. Maka perlu mendengarkan aspirasi-aspirasi dari pihak terkait"
Ilustrasi (Net)
momentum-momentum tertentu. Maka perlu mendengarkan aspirasi-aspirasi dari pihak terkait,” terang kiai akrab disapa Gus Rozin.

Ketua FKDT Pusat Lukman Hakim menanggapi, RUU Pesantren harus betul-betul mengakomodir komponen pendidikan keagamaan saat ini yang punya komitmen mempertahankan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan, entah itu yang kini telah ada maupun yang nanti akan ada.

"Harus diminimalisir dari kepentingan personal/kelompok, sehingga RUU ini benar-benar mengayomi masyarakat Islam. Bahwa pendidikan keagamaan ini merupakan pemegang kendali kehidupan kebangsaan,” tegas Lukman.

Senada dengan sikap di atas, Ketua ITMAM Yunus Muhammad mengapresiasi adanya RUU Pesantren. Dia menyarankan agar RUU ini tidak terfokus pada pesantren sebagai lembaga pendidikan saja, namun aspek sebagai agen-agen lain perlu dibahas. “Aspek pemberdayaan masyarakat perlu dibahas agar bisa masuk dalam RUU Pesantren,” imbau Yunus.

Sedangkan bagi perwakilan dari FKPM membayangkan RUU Pesantren akan membawa pendidikan pesantren untuk ditawarkan kepada masyarakat dunia, sebagai upaya menyiapkan pesantren di masa depan. “Kita yang ingin mengangkat pesantren, maka kita harus serius sehingga bisa ‘marketable’ menjadi tujuan pendidikan Islam dunia,” yakinnya.

Adapun perwakilan PDF menekankan bahwa yang paling penting adalah substansi dari RUU Pesantren. Maka pihaknya akan terus mengawal baik itu nanti saat proses menuju sidang paripurnan DPR maupun ketika nanti sudah sah lalu ditangani oleh Kementerian Agama selaku leading sector.

FGD ini juga menyepakati bahwa sambil menunggu pengesahan dari DPR, masing-masing stakeholders pada forum selanjutnya akan mengajukan rekomendasi yang nantinya akan melengkapi dan merinci maksud dan tujuan dari RUU Pesantren. (*)

Sumber: Kemenag