BPOM : 65 Persen Obat Tradisional Tidak Memenuhi Ketentuan

Roro Maya Agustina Andarini
Roro Maya Agustina Andarini (KLIKPOSITIF/Halbert Caniago)

PADANG, KLIKPOSITIF  -- BPOM RI menyebut, sebanyak 65 persen iklan obat-obatan tradisional yang ada di media massa dan spanduk di Indonesia tidak memenuhi ketentuan.

"Dari 2.088  iklan obat tradisional , sebanyak 1.157 atau sekitar 65 persen tidak memenuhi ketentuan dan kami akan melakukan pengawasan," ujar Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional dan Kosmetik BPOM RI, Roro Maya Agustina Andarini.

baca juga: Produksi Herbavid, Satgas Lawan Covid DPR RI Dirikan PT? Ini Jawab DPR

Pengawasan tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara BBPOM Padang dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Sumatera Barat pada Jumat 28 September 2018 di Hotel Mercure Padang.

Ia mengatakan, kesepakatan tersebut perlu dilakukan karena banyaknya iklan obat-obatan dan kosmetik yang tidak memenuhi persyaratan.

baca juga: Martin Suhendri Jabat Direktur Pengawasan Obat Tradisional Badan POM, Elyunaida Plt Kepala BBPOM Padang

"Dari iklan suplemen kesehatan, itu ada sebanyak 1.054 yang kami lakukan pengawasan, 517 atau 49 persennya tidak memenuhi ketentuan," lanjutnya.

Sementara itu, untuk kosmetik angkanya jauh lebih tinggi, sebanyak 3.767 yang tidak sesuai dengan ketentuan.

baca juga: Komisi IX Dorong BPOM Punya Kewenangan Penyidikan

"Kalau iklan kosmetik ini komplainnya sudah cukup tinggi, karena perusahaannya sudah tidak berbentuk UMKM lagi dan tidak seperti obat-obatan tradisional," sambungnya.

Ia mengatakan, untuk perusahaan obat-obatan, suplemen dan kosmetik yang melanggar ketentuan periklanan, maka pihaknya akan memberikan peringatan.

baca juga: Ini Tips Memilih Parsel Lebaran yang Baik Ala BPOM Padang

"Kami akan memberikan peringatan sebanyak tiga kali dan jika tidak diindahkan, maka kami akan mencabut izin BPOM nya," lanjutnya.

Ia berharap iklan obat-obatan, suplemen dan kosmetik bisa diseleksi oleh media yang akan memasang iklan.

"Untuk perusahaan media yang terpusat di Jakarta kami sudah lakukan sosialisasi terkait hal ini dan kami harapkan kerja sama perusahaan media agar lebih menyeleksi lagi terkait periklanan ini," harapnya.

[Halbert Caniago]

Penulis: Iwan R