Bangunan Bersejarah Tak Terawat, Budayawan Kritik Pemko Bukittinggi

"Banyak bangunan bersejarah di Bukittinggi dipenuh semak-semak"
Cerobong asap bekas peninggalan zaman penjajahan yang terbengkalai di Bypass Ipuah Mandiangin (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

BUKITTINGGI,KLIKPOSITIF -- Budayawan Asraferi Sabri kritik Pemko Bukittinggi terkait telantarnya sejumlah bangunan bersejarah di kota perjuangan itu.

Ia menilai, Pemko Bukittinggi tak melakukan langkah nyata dalam usaha penyelamatan aset-aset sejarah.

"Kalau Pemko menyadari Bukittinggi adalah kota sejarah, hal-hal yang berkaitan dengan sejarah harusnya dilindungi dan dirawat," ucap Asraferi Sabri, Jum'at 5 Oktober 2018.

Beberapa bangunan bersejarah yang telantar di Bukittinggi adalah Lubang Jepang Anak Aia, Lubang Jepang Kayu Ramang, Hotel Centrum, Penjara Lama, Rumah Tua PDRI Parak Kopi dan Cerobong Asap Ipuah Mandiangin. Kondisi semua bangunan itu tak terawat dan sudah penuh dengan semak-semak sejak bertahun-tahun silam sehingga terkesan 'angker'.

Bangunan itu, merupakan bekas peninggalan semasa era kolonial yang sudah pasti sarat akan nilai sejarah.

Seluruh bangunan itu, memang tak dikuasai Pemko, seperti Rumah Tua PDRI tercatat sebagai aset provinsi, Penjara Lama milik Kemenkumham, dan selebihnya berada di areal tanah masyarakat.

"Kalau asetnya bukan Pemko yang punya, seharusnya Pemko jemput bola untuk menyelamatkannya, dan jika telah diserahkan harus yakin mampu menjaga," ulasnya.

Ia menyebut, Pemerintah tak punya komitmen untuk menjaga aset berharga sebab ia melihat tak ada kesadaran untuk melindungi warisan bersejarah itu.

Asraferi menyebut, Pemerintah harus menyiapkan Perda untuk menyelamatkan benda-benda berharga itu.

"Kalau ada Perda-nya, harus dijalankan, kalau belum jalan segera direvisi, jangan untuk gaya-gaya saja," pungkasnya.

Sementara, Kepala Seksi Cagar Budaya dan Peninggalan Sejarah dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bukittinggi Beta Ayu Listyorini mengatakan, pihaknya saat ini tengah menggodok aturan demi melindungi aset-aset bersejarah.

[Hatta Rizal]