Penurunan Jumlah Ikan Bilih Singkarak Berpengaruh pada UMKM

"menurunnya ikan bilih di Singkarak, karena saat ini mulai tumbuhnya alat tangkap ikan bilih secara ilegal"
Danau Singkarak (KLIKPOSITIF)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Yosmeri mengungkapkan, menurunnya jumlah ikan bilih di danau Singkarak sangat berpengaruh kepada produksi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang bergerak pada pengolahan ikan bilih.

"Memang kita akui ikan bilih asli Singkarak sudah mulai menurun. Tak hanya jumlah namun juga ukuran," ujarnya, Kamis (18/10) di Padang.

Disebutkannya, menurunnya ikan bilih di Singkarak, karena saat ini mulai tumbuhnya alat tangkap ikan bilih secara ilegal yakni menggunakan bagan ditambah penangkapannya menggunakan mata waring yang sangat halus.

"Mata waring itu sangat halus sekali yaitu gunakan kain kelambu sehingg ikan kecil yang masih berupa anak ikan ikut tertangkap," ungkapnya.

Lanjutnya, dari hasil pengkajian ikan bilih dilapangan yang tertangkap tersebut lebih dari 60 persen itu sudah tidak dapat diolah karena sangat kecil hingga akhir terbuang saja. "Ukuran ikan bilih itu saat ini saat ini saja hanya 5 hingga 10 cm. Padahal dulu bisa mencapai 5 hingga 15 cm," katanya.

Sebutnya, karena ini pelaku UMKM bergerak pada ikan bilih untuk memenuhi hasil olahannya mendatangkan ikan bilih dari darerah lain, seperti ikan bilih dari toba. Tetapi, saat ini ikan bilih toba juga mengalami penurunan dikarenakan menangkap ikan juga menggunakan bagan.

"Jadi, UMKM pengolahan bilih memang menurun produksinya. Padahal olahan ikan bilih ini dapat bermacam-macam, diantaranya bilih kering, bilih krispi, salai bilih dan bahkan bisa dibuat rendang bilih," ulasnya.

Ia berharap dengan akan adanya penertiban bagan yang anntinya akan dilakukan Satpol PP dan stakeholder terkait pada tanggal 22 Oktober nanti akan berdampak kepada peningkatan jumlah ikan bilih di Singkarak sehingga UMKM yang bergerak pada pengolahan ikan bilih juga akan meningkat kembali.

[Joni Abdul Kasir]