Kawasan Mandeh Butuh Hotel Penunjang Pariwisata

"Pengunjung yang berwisata ke Mandeh masih menginap di Padang"
Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumbar Ian Hanafiah (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Kawasan Mandeh walaupun sudah terkenal namun belum memiliki dampak yang signifikan terhadap Kabupaten Pesisir Selatan. Pasalnya di Raja Ampatnya Sumatera tersebut belum memiliki hotel atau penginapan yang sesuai standar pengunjung wisatawan mancanegara (wisman) dan dekat dengan lokasi wisata.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) Sumbar Ian Hanafiah, menjelaskan, seyogyanya di kawasan wisata Mandeh, Pesisir Selatan sudah berdiri hotel sebagai penunjang pariwisata. Pasalnya saat ini, wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Mandeh masih menginap di hotel yang berada di Kota Padang.

"Mandeh terkenal tapi yang diuntungkan Kota Padang, sebab pengunjung kami yang berwisata ke Mandeh masih menginap di Padang. Di kawasan Mandeh belum ada hotel atau semacam penginapan yang sesuai standar pengunjung," jelasnya, Kamis 18 Oktober 2018 di Padang.

Menurutnya, hotel yang berdiri di pusat Kota Painan masih terbilang kecil dan jauh dari akses ke Mandeh. Asita berharap walaupun tidak hotel berbintang Mandeh punya penginapan yang sesuai standar wisman sehingga jangkauan lebih dekat.

"Kami kebanyakan dapat paket mereka nginap. Paket pariwisata kami rata -rata paket 4 hari 3 malam, atau 5 hari 4 malam. Jadi harus ke Padang untuk menyesuaikan standar mereka," jelasnya.

Dilanjutkannya, saat ini hanya Pulau Cubadak yang punya penginapan yang sesuai selara pengunjung. "Kami inginnya di pulau, jadi pengunjung bisa nginap lama di pulau," tukasnya.

Sementara Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata Sumbar, Didit P. Santoso menyebutkan, selain penginapan, fasilitas umum seperti tong sampah dan fasilitas MCK juga harus diperhatikan di objek wisata.

"Paling penting pelayanan serta kenyamanan pengunjung selama berwisata, kemudian sesuai dengan selera mereka," ujarnya.

[Joni Abdul Kasir]