Rumah Gadang di Bukittinggi Ternyata Tidak Banyak

"18 rumah gadang tersebar di 3 kecamatan yakni Aur Birugo Tigo Baleh, Mandiangin Koto Selayan dan Guguak Panjang"
ilustrasi: Rumah Gadang (KLIKPOSITIF/Hatta Rizal)

BUKITTINGGI,KLIKPOSITIF--Penggiat Budaya dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mevi Rosdian melakukan pendataan terkait jumlah Rumah Gadang yang masih tersisa di Bukittinggi. Pendataan ini dilakukan baru-baru ini dengan cara turun langsung ke lapangan dan interview kepada pemilik rumah.

Hasilnya, cukup memprihatinkan, sebab Mevi menemukan jumlah rumah gadang tak sampai 20 unit. "Data sementara, hanya 18. Rata-rata dalam keadaan dihuni," katanya, Senin 22 Oktober 2018.

Mevi menyebut, ke 18 rumah gadang tersebar di 3 kecamatan yakni Aur Birugo Tigo Baleh, Mandiangin Koto Selayan dan Guguak Panjang. Rumah khas Minangkabau di Bukittinggi sebutnya, berjenis permanen, semi permanen tapi bagian atapnya tetap bermaterial kayu dan seng.

"Kondisi rumah beragam, dari yang sangat baik hingga separuh hancur, dan ada juga yang hancur sama sekali,"sebut Mevi.

Ia menjelaskan, rumah-rumah gadang di Bukittinggi diperkirakan berusia 70-100 tahun atau dibangun sekitar tahun 1900-1930an. "Tapi itu kan dugaan sementara dari pemilik rumah, sebab belum diteliti setidaknya dari ahli cagar budaya,"ungkapnya.

Ia menyebut, penyebab makin sedikitnya jumlah rumah gadang di Bukittinggi disebabkan faktor pertumbuhan yang tinggi.

"Pemerintah mesti berkomunikasi dengan lembaga adat, perlu tindakan cepat dan terstruktur serta koordinasi serius dengan pihak kementrian dalam hal menyelamatkan rumah gadang,"ujarnya.

Ia pun mengimbau, lembaga adat mesti mengingatkan keberadaan rumah gadang ini sebagai salah satu aset kebudayaan yang mesti dijaga dan ia juga mengusulkan agar kaum pemilik rumah gadang bisa berswadaya demi menjaga kelangsungan ikon khas Minangkabau itu.

Hatta Rizal