Kran Impor Sapi Potong Selalu Terbuka, Guru Besar Unand: Sulusinya Atur dengan Baik Hal Ini

"Ini yang harus diatur dengan baik. Ditengah kebutuhan daging sapi yang terus meningkat, sampai kapan kita harus impor? Sementara kita punya bibit dan pakan yang bisa dimanfaatkan"
Pengukuhan Guru Besar Unand, Kemarin (Rabu, 24/10) (KLIKPOSITIF/ Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Guru besar Unand yang baru dikukuhkan Prof. Dr. Ir Salam N Aritonang, MS mengungkapkan sejumlah persoalan dalam dunia peternakan di Indonesia serta solusi manajemen tata kelola yang bisa mempertahankan populasi.

Produktivitas ternak sapi potong di Indonesia masih sangat kurang dan jauh dari kebutuhan nasional sehingga kran impor selalu terbuka. Padahal, pengembangan sapi lokal seperti sapi Pesisir, Sapi Bali dan Sapi Aceh bisa dilakukan dan bisa meningkatkan produktivitas melalui tata kelola atau manajemen yang baik.

Menurutnya, tata kelola yang baik dalam peternakan rakyat bisa menyumbang kepada ketahanan pangan secara nasional. Namun persoalan saat ini usaha peternakan masih dikelola dalam skala kecil. Kemudian karena desakan ekonom juga maksa petani memotong pejantan berkualitas dan betina produktif.

"Ini yang harus diatur dengan baik. Ditengah kebutuhan daging sapi yang terus meningkat, sampai kapan kita harus impor? Sementara kita punya bibit dan pakan yang bisa dimanfaatkan," ujarnya, Kamis, 25 Oktober 2018 di Padang.

Namun, karena beberapa faktor peternakan terpaksa menjual, menyembelih sepi produktif sehingga berpengaruh kepada populasi. Faktor tersebut seperti kebutuhan yang mendesak, biaya, dan sulitnya pakan.

Guru besar Peternakan Unand ini menjelaskan, persoalan yang selama ini terjadi dalam dunia peternakan adalah tingginya pemotongan sapi betina produktif (hingga mencapai 40 persen), pejantan unggul terbatas, reproduksi rendah, keterbatasan ketersediaan pakan, tingginya angka kematian sapi.

"Maka solusinya peternakan rakyat bisa mengambil peran namun perlu diperhatikan manajemen bibit, pakan termasuk ujungnya pada pengolahan limbah. Hal itu bisa menekan biaya perawatan dan pengembangan," jelasnya.

Disampaikannya, pertumbuhan populasi sapi potong di Indonesia dua tahun terakhir sangat rendah. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Peternakan dan ... Baca halaman selanjutnya