Fenomena di Santur : BPBD Sawahlunto Sebut Tanah Ambles, Bukan Gerakan Tanah

Rumah retak di Santur Sawahlunto
Rumah retak di Santur Sawahlunto (KLIKPOSITIF/Muhammad Haikal)

SAWAHLUNTO, KLIKPOSITIF -- Kepala Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sawahlunto, Adriusman menyatakan peristiwa yang terjadi di Perumnas Lembah Santur II, Dusun Karanganyar, Desa Santur, Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto merupakan tanah ambles bukan tanah bergerak.

"Tolong diluruskan kembali, kalau ini bukan bergerak namanya, boleh kita katakan ini tanahe, karena kontur tanah di lokasi di Perumnas Lembah Santur ini tanah timbunan sebetulnya. Tanah timbunan yang dibikin perumahan, dengan kondisi itu dia rentan terhadap air, sehingga ambles, timbulah rengkahan-rengkahan, inilah yang terjadi," katanya di lokasi kejadian, Jumat 2 November 2018.

Menurutnya, peristiwa tanah ambles tersebut sering terjadi di Sawahlunto, dipengaruhi oleh kontur bukit barisan dan daerah pertambangan. "Namun dari sebanyak itu, ini yang paling parah," ungkapnya.

Baca Juga

Tindakan selanjutnya, tambah Adriusman, pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas teknis, untuk segera menangani sumber utama penyebab rengkahan tanah yakni drainase yang tidak berfungsi dengan baik.

Dikatakannya, air yang tidak mengalir ke drainase meresap ke dalam tanah, kemudian sifat air yang mengalir ke tempat yang rendah terus membawa material tanah ke bawah.

"Langkah utama adalah membendung air yang mengalir dari atas tidak masuk ke bawah, kita alirkan ke tempat lain, kemudian memperbaiki drainase yang ada sekarang, kita tambal dulu baru setelah mengeras baru kita alirkan air. Kemudian untuk jalan yang merengkah akan dibongkar, dibikin drainase yang lebih besar, kemudian kita kasih terpal diatasnya. Itu penanganan sementara," tambahnya.

Tindakan jangka panjang yang akan dilakukan BPBD Kota Sawahlunto, melihat kondisi penanganan sementara, jika memungkinkan memasang dam bronjong di area yang paling bawah tempat terjadinya rengkahan untuk menahan supaya tidak terjadi pergeseran yang jauh dari yang diperkirakan.

Disinggung soal pendirian perumahan menyalahi AMDAL, Adriusman menyerahkan ke Dinas Terkait. "Saya secara teknis tidak mengkaji itu, karena bagaimanapun pendirian kompleks perumahan harus ada rekomendasi dari komplek perumahan terkait dengan IMB, terkait dengan AMDAL dan sebagainya," jelasnya.

Dari data Dinas Sosial Kota Sawahlunto, terdapat 16 unit yang terdampak, 4 unit diantaranya harus dibongkar dan penghuninya sudah pindah rumah ke kontrakan yang baru.

Sementara itu, data Badan Geologi dari Kementerian ESDM menyebutkan, Sawahlunto masuk dalam potensi gerakan tanah selama bulan November 2018, diantaranya di Kecamatan Barangin, Lembah Segar, Silungkang dan Talwai dengan potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi.

Potensi menengah artinya daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

Sementara potensi tinggi berarti daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

Ahli Geologi dari Sumbar Ade Edward menjelaskan, gerakan tanah sangat berbeda dengan likuifaksi. Menurutnya, gerakan tanah terjadi pada daerah topografi miring yang ada bidang gelincirnya yang jadi aktif karena adanya peningkatan kandungan air atau karena ada getaran sehingga kestabilan lerengnya jadi menurun. Gerakan tanah itu dipengaruhi olah gaya gravitasi atau yang lebih dikenal dengan Gravity Movement.

Sementara likuifaksi terjadi pada pada jenis tanah yg bersifat lunak, sangat plastis mengandung mengandung air hasil sedimentasi muda, sehingga daerahnya relatif datar. Pemicunnya adalah getaran gempa yg menyebabkan tanah mengalami deformasi dan retak-retak. Pada retakan ini menyeburlah air yang terdesak karena tekanan deformasi tanah akibat pergeseran patahan dan gempa.

"Likuifaksi contohnya seperti yang terjadi di Palu. Sementara gerakan tanah itu sudah biasa terjadi dan sering menyebabkan tanah dan rumah retak-retak. Gerakan tanah dapat terjadi pada daerah dengan topografi kelerengan sedang hingga terjal," jelas Ade Edward.

[Muhammad Haikal]

Video

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Iwan R