Sosok Aisyah, Siswi Kurang Mampu dengan Segudang Prestasi

Aisyah
Aisyah (Riki S/Klikpositif)

KETERBATASAN kehidupan keluarga tidak menyurutkan langkah Aisyah (15), siswi kelas X SMA Semen Padang untuk meraih prestasi dari berbagai bidang. Anak yatim itu tercatat meraih berbagai prestasi di bidang puisi dan dan dakwah.

Aisyah, begitu ia dipanggil. Anak ketiga dari empat bersaudara pasangan Shandra (64) dan Darwan (alm) itu, dikenal sebagai pelajar yang piawai membacakan puisi dan jago berpidato di depan forum.

baca juga: FKIK Semen Padang Salurkan Bansos untuk Warga Indarung Terpapar Covid-19

Bahkan kepiawaian dari remaja berusia 15 tahun yang tinggal di Kompleks Cempago Permai 2, Kelurahan Koto Luar, Kecamatan Pauh, Kota Padang itu, dibuktikannya dengan sederet prestasi yang telah diraihnya.

Di antaranya, Juara I Lomba Pidato Hari Air Tingkat SLTP se-Kota Padang, Juara I Lomba MSQ Pentas PAI Tingkat SLTP se-Kota Padang, dan Harapan I Lomba Puisi Dalam Rangka Bulan Bahasa Tingkat SLTP se-Sumaera Barat.

baca juga: Semen Padang Sosialisasikan Protokol The New Normal pada Pemangku Kepentingan

Namun, pretasi yang paling membagakan bagi remaja kelahiran Solok, 19 September 2003 silam itu, adalah Juara I Lomba Dai Muda Tingkat SLTP se-Sumatera Barat yang digelar pada 2017 lalu.

"Sebenarnya ada beberapa prestasi lainnya yang saya raih. Tapi hanya empat prestasi itu yang paling menonjol bagi saya," kata Aisyah saat ditemui di ruang Bimbingan Konseling SMA Semen Padang , Jumat (9/11/2018).

baca juga: SSB Semen Padang Serahkan Bansos Dampak Covid 19 dari APSSI

Saat ini, remaja yang juga dikenal sebagai ustazah itu masih duduk di Kelas X SMA Semen Padang . Di mata teman-teman dan guru, Aisyah dikenal sebagai remaja yang ceria, dan aktif di berbagai organisasi di sekolah.

Tapi siapa sangka, dibalik keceriaan tersebut, Aisyah yang dikenal mudah bergaul dan dekat dengan para gurunya, merupakan seorang remaja yang rapuh dan mengalami sederet kisah pilu yang membuat prihatin atas penderitaan yang dijalaninya bersama keluarganya.

baca juga: Terkait COVID-19, Semen Padang Tiadakan Salat Idul Fitri di Plaza Kantor Pusatnya

Aisyah saat ini tinggal berdua dengan Ibunya di sebuah rumah kontrakkan di Kompleks Cimpago Permai 2, Blok B2, No 1. Ibu Aisyah merupakan seorang mualaf kelahiran Jakarta 10 Februari 1954 berdarah Manado. Sedangkan Ayahnya, meninggal dunia pada 2015 lalu di usia 68 tahun.

Sebelum meninggal, Ayah dan Ibunya bercerai ketika Aisyah masih duduk di bangku kelas 3 SD. Pasca-perceraian kedua orangtuanya, berbagai penderitaan mulai menyelimuti Aisyah kecil, ditambah tak adanya bantuan materil dari Ayahnya yang ketika itu bekerja sebagai sopir truk.

Bahkan tak lama setelah orangtuanya bercerai, kakak sulungnya bernama Khairul Amri meninggal dunia ditabrak kereta api saat mengendarai sepeda motor di perlintasan pintu kereta api di kawasan Kubang, Alai, Kecamatan Pauh.

"Abang ditabrak kereta api saat pulang kuliah di UNP. Abang itu panutan saya. Selain pintar, almarhum itu juga sayang sama keluarga. Almarhum masuk UNP melalui jalur bidik misi," ujarnya.

"Sebelum Abang saya, adik saya juga meninggal ketika masih bayi. Tapi saya lupa tahun berapa dia meninggal, karena saat meninggal usia adik saya itu baru satu hari," imbuh Aisyah.

Aisyah mengaku bahwa saat ini dirinya hanya punya seorang saudara perempuan yang baru lulus SMAK Padang. Namanya Anisa, dan saat ini dia bekerja di perusahaan pertambangan batu bara di Lahat, Sumatera Selatan.

"Kakak termasuk orang yang beruntung. Tiga bulan setelah tamat sekolah, langsung dapat kerja. Dia terhitung mulai kerja di perusahaan tersebut sejak 1 November ini. Alhamdulillah, apa yang didapatkan kakak itu membuat ibu bahagia," bebernya.

Saat ini, Aisyah masih duduk di bangku Kelas X SMA Semen Padang . Untuk meringankan beban orangtuanya, remaja periang itu tak malu menitipkan bakso bakar yang dibuat ibunya di koperasi sekolah. Ada 150 tusuk bakso bakar yang dititipkannya.

"Alhamdulillah, bakso yang saya titipkan di koperasi itu sering habis terjual. Harga jualnya murah, satu tusuk 1000. Kalau terjual, 20 persen untuk koperasi sekolah," ungkapnya.

Tak hanya dari penjualan bakso bakar, Aisyah ternyata juga dapat pemasukan dari profesinya sebagai ustazah yang kerap kali mengisi ceramah di berbagai masjid di Kota Padang. Namun, pemasukan berupa honor itu tidak rutin ia dapat.

"Hanya tiap bulan Ramadan. Alhamdulillah, honor dari ceramah bisa bantu Ibu untuk membeli kebutuhan keluarga. Saya bisa ceramah agama juga berkat didikan orangtua yang sejak kecil telah mengajarkan dan mengarahkan saya untuk belajar Ilmu Agama Islam," katanya.

Aisyah bisa dikatakan sebagai 'wajah lama' di lingkungan Yayasan Igasar Semen Padang . Semua guru tidak ada yang tak mengenal Aisyah, karena sejak SD sampai SMA, Aisyah bersekolah di Yayasan Igasar Semen Padang yang merupakan anak usaha dari PT Semen Padang .

Meski status sekolahnya tergolong sebagai sekolah elit yang berkualitas di Kota Padang, tapi Aisyah yang berasal dari keluarga kurang mampu, tak risau dengan biaya sekolahnya. Sebab, semuanya ditanggung oleh dana Laziz Yayasan Igasar Semen Padang , tempat ia sekolah.

"Sejak SD sampai sekarang saya gak bayar uang sekolah. Saya sekolah di sini gratis, karena ada yang bantuin. Selain dana Laziz, juga ada guru-guru yang patungan bayar uang SPP saya. Alhamdulillah, saya sekolah di sini tanpa beban biaya sepersen pun," katanya.

Kendati begitu, dia tak mau kalah dengan siswa lainnya yang berasal dari keluarga yang lebih beruntung darinya, terutama soal prestasi akademik. Bahkan, ia pun pernah menjadi juara I di kelas. Kemudian saat kelulusan, ia pun keluar sebagai peraih nilai Ujian Nasional tertinggi ke-19 dari ratusan siswa kelas IX di SMP Semen Padang .

Tak hanya itu, bahkan dipelbagai ajang perlombaan akademik, remaja yang punya cita-cita menjadi Polwan itu juga ikut berpartisipasi mewakili sekolahnya. "Waktu SMP, saya dua kali ikut Olimpiade Sain dan IPS tingkat Kota Padang. Tapi saya belum bisa memberikan yang terbaik untuk sekolah," ujarnya.

Waktu masuk SMA Semen Padang , remaja yang gemar dengan mata pelajaran IPS dan Fisika itu mengaku sempat ragu karena orangtuanya tidak punya biaya investasi atau uang pembangunan yang harus dibayar oleh siswa baru sebesar Rp5,5 juta. Namun karena kepedulian para guru, akhirnya Aisyah bisa melenggang untuk menjadi siswa baru di SMA Semen Padang .

"Para guru di sini sudah seperti orangtua bagi saya. Semuanya sayang dan perhatian kepada saya. Gak tahu dengan cara apa saya bisa membalas. Saya akan buktikan kepada semua guru kalau saya bisa bikin mereka bangga," ucap Aisyah.

Sementara itu, Guru Bimbingan Konseling SMA Semen Padang , Siska Dwiyani, menyebut bahwa Aisyah memang seorang remaja yang rapuh, dan itu dipengaruhi oleh psikologis keluarganya yang berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Bahkan untuk biaya ke sekolah, Aisyah dibantu oleh dermawan di tempat tinggalnya sebesar Rp75 ribu per Minggu, termasuk kebutuhan makan seperti beras dan sambal, juga didapat dari bantuan dermawan yang prihatin melihat kondisi keluarga Aisyah.

Sedangkan untuk kebutuhan lainnya, ibunya harus banting tulang untuk membuat bakso tusuk yang ditumpangkan Aisyah di koperasi sekolah. Sedangkan usaha lainnya, menerima pesanan pembuatan berbagai jenis kue.

"Kami melihat ibunya orang yang kuat, karena harus memiliki peran ganda. Sebab selain jadi Ibu, juga jadi Ayah bagi Aisyah," kata Siska saat ditemui di ruang Bimbingan Konseling SMA Semen Padang .

Aisyah, lanjutnya, memiliki pribadi yang agak tertutup soal kondisi keluarganya kepada teman- temannya, namun para guru menjadi tempat curhat bagi Aisyah. Baik curhat soal keluarga, maupun soal pelajaran.

Di depan teman-temannya, Aisyah memang terlihat ceria, karena dia tak ingin teman-temannya tahu bagaimana kondisi ekonominya yang begitu pelik, karena dia tidak ingin teman-temannya merasa kasihan dengan kondisi keluarganya.

"Aisyah ini juga siswi yang sabar, tegar dan ikhlas. Dia selalu tampak ceria, meskipun sebenarnya dia seorang yang rapuh. Ini yang membuat kami salut dan sayang sama dia," ujar Siska.

Ia pun berharap para dermawan, turut peduli kepada Aisyah. Sebab, saat ini pihak keluarganya butuh uluran tangan untuk menopang ekonominya. "Setidaknya, ada pihak yang mau memberikan modal usaha kepada keluarga Aisyah untuk bisa memperbaiki ekonominya," harap Siska.(*)

Penulis: Riki S