Logistik yang Mulai Menipis di Pengungsian Ulujadi Palu

Lokasi pengungsian di Jorong Wen Tumbuk, Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi Kota Palu
Lokasi pengungsian di Jorong Wen Tumbuk, Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi Kota Palu (KLIKPOSITIF)

PALU, KLIKPOSITIF - Sebulan pascagempa dan Tsunami, kebutuhan makanan dan bahan logistik lainnya masih jadi perhatian penuh bagi masyarakat yang menjadi korban. Hingga saat ini, bantuan logistik tak henti-hentinya terus berdatangan ke wilayah ini, baik dari pemerintah maupun relawan lainnya.

Dari pantauan di lapangan, masih terlihat warga yang memburu setiap truk atau mobil logistik yang datang ke satu kawasan, misalnya di Kelurahan Pantoloan pada 1 November 2018.

baca juga: Kamis Pagi, Kawasan Aceh Diguncang Gempa

Hingga saat ini, tak sedikit juga masyarakat yang tinggal di tenda pengungsian mencemaskan bahan pangan dan logistik yang mereka miliki karena sudah mulai menipis. "Saat ini kami hanya mengharapkan bantuan dari relawan atau pihak terkait lainnya. Kami belum bekerja dan masih takut untuk ke laut. Sehingga untuk makan saja kami masih mengharap bantuan dari pihak-pihak terkait," kata Malik (52), Kepala Lurah Buluri.

Ia mengatakan setiap hari dapur umum yang berdiri di kawasan pengungsian itu memasak 50 kg beras, yang di distribusikan kepada 105 Kepala Keluarga (KK) yang ada di pengungsian ini.

baca juga: Pagi-pagi Gempa Guncang Mentawai, Ini Penjelasan BMKG

"Setiap hari kita memasak dan semua warga makan disini, khususnya di RT 01 ini. Kita bersyukur dapat bantuan setiap harinya dari relawan, khususnya ACT yang telah hadir disini untuk warga saya," katanya.

Diakuinya, persediaan logistik untuk warganya saat ini sudah mulai menipis. Logistik yang ada cukup hinga dua minggu kedepan "Takutnya logistik ini habis dan kami tak tahu mau makan apa lagi. Sehingga untuk saat ini kami masih berharap mendapat bantuan logistik untuk kelurahan kami," tambahnya.

baca juga: Halmahera Barat Diguncang Gempa 6,1 SR

Diakui Malik, warganya yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan dan bauruh bangunan juga masih belum bisa melaksanakan kembali aktivitasnya. Hingga saat ini mereka masih takut untuk melaut. "Jangankan melaut, untuk berjalan saja di tepi laut itu kami masih takut. Selain itu, bibir pantai juga retak dan menganga yang cukup karena gempa sehingga kami belum berani untuk melaut lagi," jelasnya.

Sedangkan untuk buruh bangunan, saat ini tentunya belum berlanjut karena masih dalam masa pembersihan puing-puing bangunan yang hancur pascagempa dan Tsunami. "Sehingga untuk saat ini kami hanya bisa berharap bantuan tetap datang, terutama logistik untuk kelangsungan hidup bagi warga disini," tuturnya.

baca juga: Gempa Guncang Pessel, BMKG: Aktivitas Sesar Mentawai

"Kami berharap, bantuan ACT juga tidak putus ke daerah kami sampai situasi kembali normal dan pulih. Selain itu, saya juga akan terus mengusahakan apapun kebutuhan untuk warga saya," jelasnya.

Pihaknya berharap pemerintah juga memperhatikan keberadaan mereka untuk kelanjta kehidupan berikutnya. "Kami berharap pemerintah memperhatikan nasib kami bagaimana kami bisa hidup layak dan pendidikan untuk anak-anak juga tetap bisa berjalan dengan baik lagi kedepannya," jelasnya.

Lokasi pengungsian di Jorong Wen Tumbuk, Kelurahan Buluri, Kecamatan Ulujadi Kota Palu merupakan lokasi pengungsian yang ada di sebuah lapangan bola di kawasan perbukitan. Di lokasi ini ada 105 KK dengan perkerjaan sebagai besar sebagai nelayan dan buruh bangunan. Sejak gempa dan Tsunami melanda daerah itu, aktivitas masyarakat sebulan setelah kejadian masih belum normal. Mereka masih tinggal di tenda pengungsian dan masih belum bisa kembali bekerja. (*)

Penulis: Fitria Marlina