Pengamat Politik Unand Sebut Kecenderungan Golput Pemilih Milenial Cukup Tinggi

"Kesadaran mereka harus disentuh agar berpartisipasi dalam pemilu"
Pengamat politik Unand Aidinil Zetra (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF - Pengamat politik Unand Aidinil Zetra mengatakan, pemilih milenial atau pemilih muda lebih cenderung menentukan pilihan mendekati hari pemilihan. Sifat kritis dan banyaknya akses informasi yang diterima membuat mereka kadang apatis dan tidak menentukan pilihan.

Hal itu menjadi tugas berat penyelenggara pemilu seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU), Bawaslu, Pemerintah dan stakeholder terkait.

"Dari beberapa lembaga survei kecenderungan mereka untuk golput cukup tinggi," ujarnya kepada KLIKPOSITIF, Rabu, 28 November 2018.

Dijelaskannya, karakter pemilih milenial adalah menunggu, melihat, kritis dalam melihat kondisi saat ini, memiliki akses informasi cepat berubah. Sehingga jika mereka tidak mendapatkan calon yang sesuai dengan keinginan, mereka akan mengambil sikap apatis. Selain itu kebanyakan dari mereka belum menentukan pilihan dan cepat merubah pilihan.

"Kesadaran mereka harus disentuh agar berpartisipasi dalam pemilu," ujar Wakil Dekan I FISIP Unand ini pada KLIKPOSITIF pada kegiatan yang sama.

Menurut Aidinil, generasi milenial harus berpartisipasi dalam setiap tahapan pemilu dan ikut mengawasi pemilihan. Tidak sampai di situ, sebagai generasi yang melek teknologi dan sarat dengan informasi setelah pemilu mereka juga harus mengawasi pemimpin terpilih.

"Pasca pemilu, generasi Y ini juga harus mengawasi pemimpin terpilih. Mereka adalah orang-orang yang terdepan dengan informasi," katanya.

Sementara Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit menghimbau generasi milenial untuk menentukan pilihan dalam pemilu 2019 nanti. Sebab partisipasi mereka dalam pemilu menemukan nasib bangsa lima tahun ke depan.

[Joni Abdul Kasir]