KKI Warsi: Banjir di Sumbar Akibat Kerusakan Hutan

"banjir yang tidak biasa di Sumbar, bahkan sampai 11 daerah terdampak beberapa bulan terakhir akibat kerusakan hutan di daerah tersebut."
Hutan di Kawasan Maninjau Kecamatan Tanjung Raya-Agam (Joni Abdul Kasir/KLIKPOSITIF)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Data dari Komunitas Konservasi Indonesia WARSI Dalam kurun waktu 25 tahun, Sumbar kehilangan hutan seluas 578.372 hektare (ha).

Wakil Direktur Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Adi Junaidi tidak menapik banjir yang tidak biasa di Sumbar, bahkan sampai 11 daerah terdampak beberapa bulan terakhir akibat kerusakan hutan di daerah tersebut.

Adi menyebutkan, dari data terakhir KKI Warsi tahun 2015, dari 4 juta hektare lebih hutan di Sumbar, hanya 1,9 juta hektare atau sekitar 45 persen tutupan hutan kini yang tersedia.

"Pasti, karena salah satu fungsi hutan sebagai tangkapan hutan. Sama seperti kepada kalau rambut gundul air akan mudah sampai ke muka begitu juga hutan, jika telah gundul akan sulit menahan air," ujarnya, Senin 10 Desember 2018 di Padang.

Menurutnya, perpindahan kewenangan kehutanan dari kabupaten dan kota ke provinsi menjadi peluang bagi oknum memanfaatkan situasi untuk mengeksploitasi hutan. Ada dengan cara ilegal loging maupun menjadikan hutan sebagai perladangan.

"Masa transisi ini menjadi peluang atau pintu masuk terjadi kerusakan hutan. Kewenangan kabupaten dan kota tidak ada lagi, provinsi juga baru membentuk Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), tentu saja pengawasan terhadap hutan tidak maksimal," terang Adi.

Maka, dilanjutkannya, pengelolaan hutan melalui perhutanan sosial bisa menjadi solusi. Sebab dengan dikelola oleh masyarakat dan dengan aturan main yang sudah ada bisa menyelamatkan hutan dari kerusakan. Perhutanan sosial di Sumbar sudah mencapai 187 unit dengan luas 278,669 ha.

"Tidak hanya itu, hutan juga menjadi nilai ekonomis bagi masyarakat tanpa merusak hutan," ujarnya.

(Joni Abdul Kasir)