Dulunya Kumuh, Kini Jorong Tabek Bertransformasi Menjadi Kampung “Seribu Bunga” di Ranah Minang

"Mudah-mudahan, Astra International terus menjadi perusahaan otomotif terbesar dan terkemuka di Tanah Air yang terus berpartisipasi untuk memajukan masyarakat Jorong Tabek melalui program-program CSR perusahaan"
Gapura KBA Astra International di pintu gerbang utama Jorong Tabek (Riki Suardi)
sebagian masyarakat juga ada yang mencemooh dan sebagiannya lagi, ada yang khawatir kalau kearifan lokal yang selama ini dipertahankan masyarakat, tergerus oleh budaya luar melalui para wisatawan yang datang berkunjung ke Jorong Tabek untuk menikmati wisata desa.

Meski begitu, apapun pandangan masyarakat, mantan TKI yang pernah mengadu nasib ke Malaysia dan Singapura selama lebih kurang 3,5 tahun itu tak patah arah. Melalui pendekatan prinsip 5 M, yaitu mulai dari yang tua-tua, mulai dari yang emak-emak, mulai dari yang kecil, mulai hari ini, dan mulai dari hati, hambatan itu sekita mengubah mainsed masyarakat.

“Masyarakat yang dulunya tak peduli, dan ada yang mencemooh serta khawatir akan hilangnya kearifan lokal, kini berbaur bersama-sama dengan penggiat KBA untuk membangun Jorong Tabek menjadi desa yang layak untuk dikunjungi wisatawan. Saat ini, ada sebanyak 413 orang yang menjadi penggiat KBA. Jumlah tersebut, didominasi oleh kaum muda dan emak-emak. Penggiat maupun pengurus, juga ,” bebernya.

Suami dari Pelni Eliza itu menyebut bahwa prinsip 5 M merupakan senjata paling ampuh untuk menyatukan masyarakat Jorong Tabek melalui empat pilar KBA, karena menurutnya prinsip 5 M itu juga dapat menyentuh hati masyarakat. Seperti prinsip mulai dari yang tua-tua misalnya. Menurut putra asli Jorong Tabek itu, yang tua-tua tentu ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat untuk anak cucunya.

Kemudian prinsip mulai dari yang emak-emak, karena kaum emak-emak bertanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan. Di samping itu, emak-emak juga dapat mempengaruhi bapak-bapak. Seperti gotong-royong misalnya. Emak-emak ikut bergotong-royong, tentu yang bapak-bapak juga akan ikut-ikutan untuk bergotong-royong.

“Kan tidak mungkin yang bapak-bapak membiarkan yang emak-emak bergotong-royong,” katanya. Sedangkan prinsip mulai dari yang kecil, sambung Kasri, karena sesuatu yang besar dibangun dari yang kerikil. Sementara ... Baca halaman selanjutnya