Terkait Penyitaan Tiga Buku di Padang, Sejarawan: Masyarakat Tak Perlu Reaktif

"Sekarang dilarang pun buku itu, buku alternatif yang lain masih banyak beredar"
Sejarawan, Wannofri Samry (istimewa)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Sumatera Barat (Sumbar), Wannofri Samry menyerukan masyarakat Sumbar tidak reaktif menyikapi penyitaan tiga judul buku yang diduga berpaham komunis di salah satu toko buku di kawasan Pondok, Kota Padang, Selasa 8 Januari 2019 kemarin.

"Masyarakat tidak perlu pula reaktif akan hal itu. Juga masyarakat perlu meningkatkan wawasan sejarah. Sekarang dilarang pun buku itu, buku alternatif yang lain masih banyak beredar," ungkap Wannofri pada KLIKPOSITIF, Rabu 9 Januari 2019.

Dalam pencerdasan itu, menurutnya, pemerintah harus melibatkan akademisi, yang justru disayangkan tidak pernah dilakukan. Hal itu berakibat masyarakat, terutama kaum milenial yang menjadi kabur akan sejarah dan cenderung membenarkan segala sesuatu yang baru terbit.

"Kalau tidak masyarakat akan linglung. Apalagi pada masyarakat milenial yang memang tidak pernah merasakan sejarah tersebut mesti diberitahu. Pemerintah mesti melibatkan sejarawan untuk mempelajari kebenaran buku," ungkap lulusan University Kebangsaan Malaysia ini.

Dosen Sejarah Unand ini mengakui, sejauh ini belum membaca beberapa buku yang disita tersebut. Namun, dalam kasus tersebut dia menilai ada dua hal yang menjadi dasar. Yakni, untuk penyebaran ideologi komunis dan aktivitas PKI memang dilarang. Sebab, secara UU masih terikat sama TAP MPRS No.25 tahun 1966.

"Hak negara untuk melarang. Kemudian kalau buku akademik jangan dilarang, karena akan membuat gelap melihat masa lalu. Siapapun boleh mempelajari sejarah apapun," jelasnya.

Ketua Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Unand, Anatona mengatakan, kejadian penyitaan buku merupakan hal yang biasa. Dia berharap kejadian tersebut tidak menyurutkan semangat penulis dari akademisi untuk menulis.

"Sita menyita itu hal yang biasa. Kalau bertentangan, apalagi dengan ideologi negara, tentu memang harus. Tapi idealnya memang harus dipelajari terlebih ... Baca halaman selanjutnya