Karena Alasan Ini, Asita Ancam akan Mogok Nasional

Ketua ASITA Sumbar Ian Hanafiah (tengah)
Ketua ASITA Sumbar Ian Hanafiah (tengah) (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Ketua Asosiasi Perjalanan Wisata Indonesia ( Asita ) Sumatera Barat Ian Hanafiah mengancam akan melakukan mogok nasional akibat dari mahalnya tiket yang dijual maskapai Garuda Indonesia.

"Jika tidak ada tanggapan dari Kementerian Perhubungan soal mahalnya harga tiket pesawat, kami akan lakukan mogok nasional. Pembicara untuk mogok sedang kami koordinasi dengan Asita pusat," ujarnya, Jumat, 11 Januari 2019.

baca juga: Lima Rumah Warga dan Satu Musala Rusak Dihantam Longsor di Batipuh Selatan Tanah Datar

Pasalnya secara nasional agen travel merasa dampak dari kenaikan tarif pesawat. Apalagi diberlakukannya zero comission (meniadakan komisi) untuk pengusaha perjalanan. Tak hanya Garuda Indonesia, maskapai lain Lion Air berserta anak perusahaannya juga mencekik biro perjalanan melalui bagasi berbayar.

"Atas perlakuan ini kami akan mogok nasional. Kami gak akan jual paket wisata, kami jual juga ndak dapat apa-apa," tegasnya.

baca juga: Pasien Sembuh COVID di Pessel Bertambah Dua Orang, Total Jadi 15 Orang

Menurut Ian, beberapa kebijakan maskapai tersebut bisa membunuh dan membuat agen travel gulung tikar. Bahkan sudah ada dua agen travel di Kota Pariaman yang tutup. Dampak lain penurunan kunjungan pariwisata ke Sumbar , produk UMKM tidak laku sebab pengunjung akan berpikir panjang untuk membeli oleh - oleh dari bagasi berbayar.

Saat ini harga tiket Padang-Jakarta-Padang atau sebaliknya untuk maskapai Lion Air mencapai Rp2-2,5 juta. Sementara jika menggunakan Garuda Indonesia Rp3,8-4,2 juta.

baca juga: Pemerintah Akan Lanjutkan Pembenahan Infrastruktur Pendidikan di Politeknik Negeri Padang dan Kampus Lainnya

Bandingkan dengan harga tiket untuk Padang-Kuala Lumpur-Padang yang hanya Rp800 ribu-1,2 juta. Atau penerbangan Padang-Bangkok-Padang hanya Rp2-2,5 juta dan Padang-Phuket-Padang yang hanya Rp1,9 juta.

"Wisatawan akan lebih memilih berwisata ke Singapura, Thailand, Malaysia, Cina dan Korea karena ongkos lebih murah," ulasnya.

baca juga: Kabar Baik, Bukittinggi Sudah 12 Hari Tanpa Tambahan Kasus COVID-19

Dari kondisi tersebut, Asita Sumbar mengirimkan surat kepada Pemprov Sumbar agar disampaikan kepada Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perhubungan untuk mempertimbangkan kenaikan harga dan kebijakan bagasi berbayar.

"Saya juga sudah WhatsApp pak gubernur melaporkan kondisi ini," tukasnya.

Sementara Gubernur Sumbar Irwan Prayitno sudah beberapa kali menyurati dua maskapai tersebut. Pasalnya selain berpengaruh kepada inflasi juga berdampak kepada kunjungan pariwisata ke Sumbar .

"Alasan mereka selalu masih sesuai dengan batas atas sesuai aturan. Kalau begini kondisinya transaksi UMKM akan menurun dan pengunjung juga akan turun," ujarnya.

[Joni Abdul Kasir]

Penulis: Iwan R