Pembunuhan di Pasar Raya Padang Dilatari Dendam

Ilustrasi
Ilustrasi (Net)

PADANG , KLIKPOSITIF -- Tindakan penusukan yang berujung pada dugaan tindakan pembunuhan yang terjadi di Pasar Raya Padang , Selasa 15 Januari 2018 ternyata dilatari dendam antara pelaku dan korban.

Hal itu terungkap dari wawancara yang dilakukan KLIKPOSITIF dengan pelaku yang bernama Riki Nafian (38) di Mapolresta Padang .

baca juga: Belajar Dari Pasar Raya Padang, Swab Tes Akan Dilakukan Terhadap Ratusan Pedagang Pasar Payakumbuh

Riki mengaku dendam dengan Martan karena korban telah memukul salah satu rekannya hingga patah tulang.

"Saya menusuknya karena dia telah memukuli teman saya hingga mengalami patah tulang," katanya. Martan Marulafau sendiri, sebut dia, terkenal sebagai salah seorang preman di pasar induk Kota Padang tersebut.

baca juga: Pemko Padang Siapkan Rencana PBM Saat New Normal

Baca Juga:  Pria di Padang Ini Nekat Membunuh di Depan Polisi

Pengeroyokan yang berujung dendam itu terjadi karena rekan Riki tidak mau memberikan hasil panciangannya pada Martan. Martan yang geram lantas mengeroyok teman Riki bersama sejumlah teman-temannya pula.

baca juga: Pendaftaran Murid Baru Tingkat SD di Kota Padang Mulai 11 Juni, ini Syarat dan Caranya

"Sekarang teman saya itu dirawat di Rumah Sakit Reksodiwiryo," ujar dia.

Sakit hati temannya diperlakukan demikian, Riki pun mencari Martan ke kawasan Matahari Lama, disana Martan langsung kabur begitu mengetahui Riki mencarinya untuk membalas pengeroyokan tersebut.

baca juga: Pendaftaran SMP di Padang Dimulai 17 Juni, Ini Syarat dan Caranya

"Ketika dia (Martan) berhenti dari kaburnya, saya langsung menusuk menggunakan pisau yang biasa saya bawa sehari-hari," ucap dia.

Kendati sudah menghabisi nyawa Martan, Riki pun mengaku menyesal telah melakukan hal tersebut.

Riki saat ini telah mendekam di ruang tahanan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Riki disangkakan dengan pasal 351 ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun.

[Halbert Chaniago]

Penulis: Ocky Anugrah Mahesa