Larangan Kursi Roda, Masjid Harus Sediakan Fasilitas Khusus Difabel

"Harus ada kesepakatan yang bisa dijadikan acuan untuk menetapkan aturan di masjid"
Ilustrasi (Net)

PADANG, KLIKPOSITIF -- Dosen Ilmu Fiqh Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Zelfeni Wimra mengatakan bahwa pelarangan penggunan kursi roda di Masjid Raya Sumatera Barat harus dijelaskan lebih rinci.

"Dalam Fiqh, yang dilarang masuk ke masjid adalah benda-benda yang tidak suci. Nah, apakah kursi roda tidak suci? ini perlu kejelasan yang lebih rinci," katanya pada KLIKPOSITIF.

Pernyataan demikian disampaikan pria yang akrab dipanggil Wimo itu terkait pelarangan sejumlah warga disabilitas untuk memasuki Masjid Raya Sumatera Barat beberapa waktu lalu oleh petugas keamanan.

Pelarangan ini kemudian mendapat perhatian dari berbagai kalangan, salah satunya dari Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, yang meradang usai informasi itu beredar di media sosial.

Dalam Fiqh, Wimo menjelaskan bahwa dalam larangan tersebut harus ada kesepakatan yang bisa dijadikan acuan untuk menetapkan aturan di masjid, seperti misalnya penggunaan kursi roda ini.

"Perlu kesepakatan dengan konsep dasarnya, kalau masjid ramah difabel, harusnya pengurus menyediakan fasilitas kursi roda pengganti untuk masyarakat berkebutuhan khusus," sebut dia.

Selain kursi roda, ia juga menyarankan agar pengurus masjid juga menyediakan fasilitas tempat berwudhu khusus bagi masyarakat difabel.

Kalau semua contoh itu tidak tersedia, ia menambahkan, kursi roda yang bukan pengganti dari pihak masjid harusnya bisa dibawa masuk oleh masyarakat ke dalam area masjid.

"Kursi roda itu kan ciptaan manusia, bisa dicuci. Itu nalar sederhananya, asal konsep dasar (peraturan) itu disepakati bersama. Sebab tidak mungkin pula mereka merangkak," papar Wimo.

Semua penjelasan tersebut, tambah Wimo tertera dalam Fiqh Islam yang memuat olahan beberapa ayat dan hadist soal ketentuan kesucian masjid yang dilahirkan dari Ijtihad Ulama.

Pendapat Wimo kemudian senada dengan pernyataan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit beberapa waktu ... Baca halaman selanjutnya