"Masih Banyak Pedagang Sate yang Baik dan Jujur"

Syafrisal alias Aciak (48 tahun) pedagang sate di Jalan Cendrawasih Air Tawar Barat Padang
Syafrisal alias Aciak (48 tahun) pedagang sate di Jalan Cendrawasih Air Tawar Barat Padang (KLIKPOSITIF/Joni Abdul Kasir)

PADANG, KLIKPOSITIF -- "Duduaklah dulu, ndak dagiang babi gai do (duduklah dulu, tidak ada daging babi)," ajak Syafrisal alias Aciak (48 tahun) pedagang sate di Jalan Cendrawasih, Kelurahan Air Tawar Barat, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, Sumatera Barat (Sumbar) kepada KLIKPOSITIF saat singgah di tempatnya, Rabu 30 Januari 2019 malam.

Pria kelahiran Lubuk Basung itu mengaku pagi tadi mendapatkan kabar ada pedagang menjual sate daging babi di Kota Padang. Sontak membuatnya terkejut dan cemas, karena sedikit banyaknya kabar itu akan berdampak kepada omsetnya.

BACA JUGA:  MUI Padang Minta Pemerintah Jamin Kehalalan Makanan di Pasaran

Baca Juga

"Pagi saya langsung ke Pasar Raya Padang menanyakan kabar itu. Ternyata benar, lalu saya pulang lagi dengan sangat kecewa. Namun saya putuskan hari ini tetap berjualan," kata Aciak.

Dia mengaku geram dengan ulah oknum pedagang nakal yang bisa derdampak kepada seluruh pedagang sate di Sumbar, khususnya Kota Padang. Namun dia yakin tidak semua pedagang sate berkelakuaan seperti itu.

"Saya berharap masyarakat tidak menyamaratakan semua pedagang sate dan tetap belanja sate," harapnya.

Aciak mengaku dengan keterbatasan fisiknya (perkiraan tinggi Aciak di bawah 1 meter), jualan sate merupakan harapan satu-satunya untuk menghidupi dua anak perempuannya yang saat ini sekolah di salah satu pesantren di Lubuk Basung. Sejak kematian istrinya 2007 silam, tanggungjawab terhadap anak mengantarkannya menjadi tukang sate pada 2010 hingga saat ini.

BACA JUGA:  Tidak Tahu yang Dimakan Adalah Daging Babi, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?

"Sudah 18 tahun jualan sate. Dulu saya jualan dekat jalan arah ke UNP. Dua tahun belakangan pindah karena dapat izin dari pemilik Gesa Taylor," terangnya.

Sekitar Pukul 17.00 WIB pria mungil itu sudah menyiramkan minyak sate ke api di gerobak untuk memancing mahasiswa keluar dari kos-kosan untuk membeli sate jualannya. Kemudian sekitar pukul 00.00 WIB Aciak mengakhiri peraniagaannya.

"Saya menyediakan ceker ayam, telur puyuh lokan dan sapi. Pelanggan kebanyakan mahasiswa, hari ini sudah mulai bertanya daging apa Ciak, saya jawab jawi (sapi). Itu artinya mereka sudah tahu informasi daging babi, apalagi mahasiswa tentu cepat mendapatkan informasi," katanya.

Pedagang sate di Jalan Cendrawasi nomor 5 itu mengaku, hari ini belum terasa betul imbasnya, sebab kebanyakan mahasiswa UNP memasuki masa libur. Namun omset hari ini dibandingkan hari sebelumnya agak turun. 

Sementara Zaldianto, mahasiswa jurusan kimia semester akhir mengaku terbantu dengan keberadaan Aciak. Kalau kiriman lagi tersendat bisa beli sate Rp5.000 kenyang.

"Biasanya kalau lagi musim-misim sulit beli ketupat tiga daging dua banyakin kuah, di kos nanti tambah nasi," selorohnya.

Dia mengaku sudah mendapatkan informasi soal sate daging babi. Namun karena sudah langganan dengan Aciak tidak membuatnya ragu untuk membeli sate.

"Bagi saya satu bersalah tidak baik menghakimi seluruh pedagang sate. Masih banyak pedagang sate yang baik dan jujur," tukasnya.

[Joni Abdul Kasir]

Video

Kakek yang Viral Beli Obat dengan Uang Mainan Akan Segera Umrah

YouTube channel KlikPositif.com

Penulis: Iwan R