Kemenlu RI Selidiki Dugaan 2 WNI Jadi Pelaku Teror Bom Filipina

Aparat Filipina memeriksa lokasi ledakan bom di dalam gereja Katolik di Jolo, Provinsi Sulu, sehari setelah insiden, Senin (28/1/2019)  Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul
Aparat Filipina memeriksa lokasi ledakan bom di dalam gereja Katolik di Jolo, Provinsi Sulu, sehari setelah insiden, Senin (28/1/2019) Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "2 WNI Disebut jadi Pelaku Bom di Filipina, Ini Kata Kemenlu", https://nasional.kompas.com/read/2019/02/02/06132 (AFP / NICKEE BUTLANGAN)

KLIKPOSITIF - Teror bom ganda baru saja melanda sebuah katedral Katolik-Roma di Jolo, Provinsi Sulu, Filipina selatan pada Minggu (27/1/2019) pagi waktu setempat. Insiden itu tercatat 22 orang meninggal dunia dan melukai lebih dari 100 orang.

Pada Jumat (1/2/2019) atau selang beberapa hari usai kejadian, Pemerintah Filipina menyatakan bahwa pelaku teror bom itu adalah dua warga negara Indonesia.

Merespon pernyataan itu, Pemerintah Indonesia di Jakarta menyatakan belum dapat mengonfirmasi berita mengenai kemungkinan keterlibatan dua WNI dalam aksi teror bom di Jolo, demikian keterangan Kementerian Luar Negeri RI, Jumat malam (1/2/2019).

Baca Juga

"Menteri Luar Negeri RI tengah mencoba berkomunikasi dengan berbagai pihak di Filipina untuk memperoleh konfirmasi. KBRI di Manila maupun KJRI di Davao City juga tengah berusaha mendapatkan konfirmasi dari berita tersebut," katanya.

"Informasi terakhir yang diterima hari ini (oleh Kemlu RI) dari pihak Kepolisian Nasional Filipina (PNP) dan komando militer Western Mindanao Command (Westmincom) menjelaskan bahwa pelaku pengeboman di Jolo, sampai saat ini belum teridentifikasi identitas maupun kewarganegaraanya," terang Kementerian Luar Negeri.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina , Eduardo Ano mengatakan, pelaku serangan teror di Jolo diduga adalah pasangan asal Indonesia yang dibantu oleh kelompok yang terafiliasi ISIS.

Menurut Menteri Ano, informasi tersebut didapat dari keterangan saksi dan sejumlah sumber yang tidak disebutkan namanya. "Mereka orang Indonesia," kata Ano kepada CNN Philippines, seperti dikutip dari Euronews, Jumat (1/2/2019).

Menurut Ano, pasangan tersebut menerima bantuan dari Abu Sayyaf, sebuah organisasi militan terafiliasi ISIS di Filipina Selatan yang terkenal karena aksi penculikan dan aksi ekstremis lainnya.

Sementara Mendagri Filipina menambahkan, mereka yang merencanakan serangan itu berada di bawah instruksi ISIS.

Sumber: Suara

Baca Juga

Penulis: Fitria Marlina