Bangladesh Usulkan Zona Aman di Myanmar untuk Pengungsi Rohingya

" orang-orang Rohingya akan dibantu untuk kembali ke tanah mereka sendiri"
Menteri Luar Negeri Bangladesh AK Abdul Momen meminta Rusia, Cina dan India untuk membantu Dhaka dalam menangani krisis pengungsi Rohingya. (Aljazeera)

KLIKPOSITIF - Menteri Luar Negeri Bangladesh AK Abdul Momen meminta Rusia, Cina dan India untuk membantu Dhaka dalam menangani krisis pengungsi Rohingya. Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Anadolu pada hari Minggu (10/2), Momen mengatakan pemerintahnya telah mengusulkan membangun zona aman di negara bagian Rakhine di Myanmar.

"Jika zona aman dibuat di bawah kewaspadaan Cina, Rusia dan India bersama dengan negara-negara ASEAN, orang-orang Rohingya akan dibantu untuk kembali ke tanah mereka sendiri," katanya.

Bangladesh dan Myanmar menandatangani perjanjian repatriasi pada November 2017 dengan jangka waktu dua tahun untuk mengembalikan para pengungsi Rohingya ke Myanmar. Namun, pemulangan ini telah ditunda karena kekhawatiran global tentang keselamatan Rohingya di negara asal mereka.

Momen mengatakan tujuan utamanya adalah memulangkan mereka ke negara asal mereka dengan bermartabat dan aman dengan meminta bantuan dari para aktor internasional. Sejak Agustus 2017, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar wanita dan anak-anak, telah melarikan diri dari Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan penumpasan terhadap komunitas Rohingya yang mayoritas Muslim.

"Ada 1,2 juta Rohingya yang sekarang tinggal di Bangladesh. Meskipun kami bukan negara kaya, kami adalah salah satu negara terpadat di dunia," kata Momen, memuji Perdana Menteri Sheikh Hasina atas kebajikan dalam memberikan perlindungan.

Dilansir dari laman Aljazeera, setidaknya 43.000 Rohingya hilang dan diperkirakan meninggal, menurut laporan bulan Maret 2018 oleh Asosiasi Parlemen Bangsa-Bangsa Asia Tenggara untuk Hak Asasi Manusia. Momen mengatakan masuknya pengungsi Rohingya dipicu oleh kebijakan Myanmar dan negara itu harus bertanggung jawab.

"Sekarang, pertanyaannya adalah berapa lama kita memberi mereka tempat tinggal sementara. Mereka harus kembali ke negara kelahiran mereka. ... Baca halaman selanjutnya