Penyakit Pria di Jerman Ini Disembuhkan dengan Terapi Kuno

Ilustrasi
Ilustrasi (Pixabay)

KLIKPOSITIF - Seorang pria berusia 39 tahun diagnosis menderita penyakit hipertrigseridemia setelah melakukan pemeriksaan di sebuah rumah sakit di Cologne, Jerman .

Hipertrigseridemia merupakan penyakit yang terjadi karena molekul trigliserida lemak dalam darah meningkat. Trigliserida merupakan salah satu jenis lemak yang banyak ditemukan di dalam darah. Trigliserida dihasilkan oleh organ hati, namun sebagian besar berasal dari makanan, seperti daging, keju, susu, nasi, minyak goreng, dan mentega.

Penyakit ini biasanya dapat disembuhkan dengan teknik plasmapheresis. Dalam prosedurnya, plasma akan diekstraksi dari tubuh untuk menghilangkan komponen racun yang berlebih seperti trigliserida, setelah itu darah bersih kembali di saring ke dalam tubuh pasien. Namun, saat dilakukan teknik plasmapheresis kepada pria berusia 39 tahun ini, dokter yang mengobati mendapati kendala.

Baca Juga

Mesin plasmapheresis yang mereka gunakan tersumbat dua kali. Ternyata hal ini disebabkan karena jumlah trigliserida yang dimiliki sang pria 36 kali lebih tinggi dari batas normal. Normal nya darah orang sehat akan kurang dari 150 miligram per desiliter (mg/dL), dan angka maksimum antara 200 hingga 499 mg / dL. 500 mg / dL dan diatasnya sudah pada tingkat berbahaya. Akan tetapi, pria ini memiliki 18.000 mg/dL trigliselida yang telah mencapai tingkat bahaya dan di prediksi dapat menyebabkan kematian.

Akibat gagal menjalani teknik ini, dokter memutuskan melakukan pengobatan dengan terapi kuno yaitu dengan “bloodletting” atau “pertumpahan darah” kepada sang pria. Bloodletting adalah tradisi kuno yang bertujuan untuk mengontrol darah, dimana darah kotorlah yang akan di buang dari dalam tubuh. Praktik ini sudah lama tidak digunakan bahkan telah dibuang dan diturunkan ke ranah ilmu semu, tetapi para dokter disini masih mempertahankan praktik pengobatan ini karena dianggap dapat menghilangkan penyakit mematikan.

Dilansir dari laman mashable, praktik ini menggunakan lintah atau silet untuk mengeluarkan darah kotor yang ada dalam diri pasien. Dengan teknik bloodletting para dokter mengeluarkan dua liter darah yang kemudian mereka gantikan dengan pasokan baru sel darah merah pekat dan plasma beku bersama dengan larutan daram fisiologis.

"Jika plasmapheresis tidak dapat dilakukan karena hiperviskositas ekstrim, pengalaman kami menunjukkan bahwa pengobatan melalui bloodletting dengan penggantian (cairan) dapat menjadi alternatif yang efektif. Setahu kami, ini adalah laporan pertama yang menggambarkan prosedur ini," kata para peneliti.
Atas perkara kasus pria ini, kedepannya bloodletting menjadi alternatif yang digunakan sebagai prosedur untuk kasus-kasus khusus seperti kasus ini.

[Michelle Novri]

Baca Juga

Penulis: Fitria Marlina