Rasakan Manfaat PKH, Penjahit Baju di Limapuluh Kota Dapat Perbaiki Rumah Jadi Lebih Layak

"Saya saat ini sendirian dalam memenuhi kebutuhan anak-anak. Upah bordir sehari cuma Rp20 ribu dan kalau ada orderan pakaian satu stel Rp100 ribu, itu pun kadang-kadang dan tidak menentu. Bantuan PKH yang datang secara rutin per 3 bulan dan bantuan beras lainnya terasa sangat membantu sekali"
Irnawati, Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dari Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni di Jorong Guguak Nunang, Nagari Sungai Talang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota. (KLIKPOSITIF/ Ade Suhendra)
selama pembangunan. Alhamdulillah dengan segala kekurangan, kini rumah saya sudah layak dihuni dan tidak seperti dulu lagi," kata Irnawati.

Sementara itu, Lady Sriwahyuni, salah seorang pendamping PKH mengatakan program bantuan rumah yang diterima Irnawati adalah Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni. Ia menjelaskan untuk mendapatkan bantuan tersebut harus memenuhi syarat dan masuk dalam beberapa kategori yang telah ditetapkan Kementerian Sosial.

"Beberapa persyaratannya adalah tanah milik sendiri yang ditandai dengan surat hibah. Sehingga setelah berdiri nanti tidak ada yang mengganggu atau mengusir. Kemudian izin keluarga dan kesepakatan bersama," kata Lady.

Namun secara persyaratan yang juga harus masuk adalah keadaan rumah penerima dalam keadaan tidak layak huni atau cukup parah. Kemudian penerima juga merupakan seorang janda dengan anak banyak dan butuh biaya banyak dalam pendidikan atau kebutuhan anak-anaknya.

"Alhamdulillah setelah diajukan, Ibu Irnawati masuk dalam 10 orang KPM yang menerima bantuan Program Rehabilitasi Sosial Rumah Tidak Layak Huni tersebut," ujarnya.

Sebagai pendamping PKH, ia berharap KPM yang merupakan ibu-ibu ke depannya dapat mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Sehingga tidak bergantung kepada bantuan yang mungkin sewaktu-waktu akan berhenti atau habis masa programnya. (Ade Suhendra)