Energi Berkeadilan, Jonan: Kemakmuran Rakyat Jadi Kunci

"emerintah selalu mengedepankan pengoperasian dan pengerjaan untuk putra-putri Indonesia terlebih dahulu. Ya, kalau nantinya kita mampu secara teknis kelola sendiri, ini jauh lebih baik. Mudah-mudahan bertahap"
Menteri Ignasius Jonan (ESDM)

KLIKPOSITIF -- Energi Berkeadilan telah lama digaungkan oleh Kementerian ESDM sejak tampuk kepemimpinan Kementerian ESDM dipimpin oleh Menteri Ignasius Jonan dan Wakil Menteri Arcandra Tahar. Namun, sebagian masyarakat masih ada yang belum mengetahui apa makna dan manfaat sebenarnya jargon Energi Berkeadilan tersebut.

Di depan para civitas akademika Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ladalero Maumere Nusa Tenggara Timur (NTT), Menteri Jonan menjelaskan secara gamblang makna dan implementasi dari Energi Berkeadilan, khususnya dalam kurun dua tahun terakhir ini.

"Energi Berkeadilan bagi kami adalah menyediakan energi secara merata bagi semua lapisan masyarakat ke pelosok tanah air dengan harga terjangkau. Bapak Presiden selalu bicara ini adalah masalah keadilan sosial," jelas Jonan di Aula STFK Ladalero beberapa hari lalu.

Jonan pun menguraikan beberapa aksi nyata yang sudah dilakukan di masa kepemimpinannya, seperti mengalokasikan anggaran sektor ESDM sebesar 54% di tahun 2018. "Mungkin ini sepanjang sejarah APBN Kementerian ESDM, baru kali ini lebih dari 50% dipakai untuk membangun infrastruktur yang manfaatnya dirasakan secara langsung buat rakyat," ujar Jonan.

Beberapa infrastruktur yang sudah terbangun hingga 2018 dan punya dampak langsung bagi masyarakat, antara lain BBM Satu Harga terbangun 131 titik, jaringan gas kota tersambung sebanyak 463.619 Sambungan Rumah Tangga (SR), 30.000 titik Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJU-TS) dan 2.288 titik sumur bor air tanah yang mampu melayani 6,6 juta jiwa.

Sementara khusus di 2018, masyarakat di 53 Kabupaten/Kota mendapatkan 25.000 paket konverter kit LPG 3Kg dan 175.782 Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) di 16 provinsi sehingga meningkatkan rasio elektrifikasi nasional mencapai 98,3 % di akhir 2018. "Ini bagian dari Pra-Elektrifikasi melalui energi bersih. Orang selalu ingat saya sebagai tukang kereta api. Saya juga ingin juga diingat sebagai ... Baca halaman selanjutnya